Kata mereka...

Keindahan adalah menatap keabadian diri sendiri didalam cermin_ Kahlil Ghibran.

Kata mereka...

Keraguan adalah rasa sakit karena kesepian untuk mengetahui bahwa iman adalah saudara kembarnya.

Kata mereka...

Iman adalah sebuah oasis di jantung yang tidak akan pernah dijangkau oleh segerombolan pikiran.

Kata mereka...

Iman adalah pengetahuan dalam hati, di luar jangkauan bukti.

Kata mereka...

Cinta tidak memiliki dan tidak akan dimiliki, karena cinta telah cukup bagi cinta itu sendiri.

Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2015

Ada Hikmah dalam Ketidaktahuan Kita?

Saat pagi masih terselimuti embun, matahati belum juga meninggi. Gemuruh suara para calon huffadz mengaji dan memurajaah hafalannya. Seorang santri datang dan kepada gurunya, dengan penuh harap dan wajah yang tawadhu, santri tersebut berkata “ustadz.. mungkin tidak? Saya bisa ikut wisuda 30 juz tahun ini?”. Sambil tersenyum guru tersebut menjawab, “Nak… ingat tidak, bahwa kurang lebih 10 bulan yang lalu kamu bertanya hal yang relative sama dengan pertanyaanmu barusan, “Ustadz… mungkin tidak, saya khatam tahun ini?”, padahal saat itu kamu baru menyelesaikan juz 13, selama rentang waktu 3 tahun perjalananmu di Pondok ini, ingatkah?.

Senin, 17 Agustus 2009

Pagi dengan Surat Al-Fajr

Alhamdulillah,,pagi ini gak sedingin biasanya, pagi yang begitu semarak. Dijalan, ku lihat burung-burung berkejaran bercuit ria, seolah ingin mengatakan pagi ini begitu indah, sayang jika dilewatkan dengan memeluk guling dan bersajadahkan kasur. Pada hari ini pula, Indonesia berulang tahun ke-64, ternyata negaraku ini sudah cukup tua, bahkan jauh lebih tua dari pada negara tetangga Malaysia dan singapura, tapi napa y kO indonesia gak maju-maju? apa karena mayoritas penduduknya seperti saya, yang “hanya” duduk berpikir memikirkan nasib serta umur yang terus berkurang, sementara kaki dan tanganku duduk bersila. Atau mungkin, karena pemerintahan kita sudah seperti kakek buyutku yang termakan usia untuk kembali memikul “landuk” dan clurit ke sawah. Alah..bukankah orang-orang pintar disekitar kita udah banyak, kenapa saya harus memikirkanya???.