Kata mereka...

Keindahan adalah menatap keabadian diri sendiri didalam cermin_ Kahlil Ghibran.

Kata mereka...

Keraguan adalah rasa sakit karena kesepian untuk mengetahui bahwa iman adalah saudara kembarnya.

Kata mereka...

Iman adalah sebuah oasis di jantung yang tidak akan pernah dijangkau oleh segerombolan pikiran.

Kata mereka...

Iman adalah pengetahuan dalam hati, di luar jangkauan bukti.

Kata mereka...

Cinta tidak memiliki dan tidak akan dimiliki, karena cinta telah cukup bagi cinta itu sendiri.

Tampilkan postingan dengan label al-qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al-qur'an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2015

Ada Hikmah dalam Ketidaktahuan Kita?

Saat pagi masih terselimuti embun, matahati belum juga meninggi. Gemuruh suara para calon huffadz mengaji dan memurajaah hafalannya. Seorang santri datang dan kepada gurunya, dengan penuh harap dan wajah yang tawadhu, santri tersebut berkata “ustadz.. mungkin tidak? Saya bisa ikut wisuda 30 juz tahun ini?”. Sambil tersenyum guru tersebut menjawab, “Nak… ingat tidak, bahwa kurang lebih 10 bulan yang lalu kamu bertanya hal yang relative sama dengan pertanyaanmu barusan, “Ustadz… mungkin tidak, saya khatam tahun ini?”, padahal saat itu kamu baru menyelesaikan juz 13, selama rentang waktu 3 tahun perjalananmu di Pondok ini, ingatkah?.

Sabtu, 03 Mei 2014

Kiat-Kiat Menjaga Hafalan Al-Qur'an


ditulis oleh KH. Abdullah A. Zaini, Lc.Q, M.Th.I, melalui restu beliau tulisan ini kami update untuk kemudian dipublikasi, untuk menjadi maklum dan menjadi tambahan ilmu untuk kemudian diamalkan, baik bagi yang huffadh, atau bagi mereka yang meniti jalan haafidhul qur'an. semoga bermanfaat. 

Memang menjaga hafalan Al-Qur'an lebih berat ketimbang menghafalnya dari nol, namun jangan berkecil hati bahwa bila niat kita baik, ikhlas karena Allah, insya Allah Dia akan membimbing kita dalam menghafal dan menjaga kitab suciNya. kalau Allah SWT ridha kepada kita, maka kemudahan-kemudahan  yang akan kita dapati.
1.Pengaturan waktu
Pandai mengatur waktu akan dapat membantu seorang penghafal Al-Qur’an dalam memelihara hafalannya. Mengatur waktu untuk mengulang-ulang hafalan yang senantiasa terus berkelanjutan, harus terus dilakukan oleh seorang penghafal Al-Qur’an. Biasakan jangan melewatkan waktu tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Rasulullah SAW telah memperingatkan, bahwa hafalan Al-Qur’an akan lebih cepat hilang  dan lepas bila dibandingkan dengan seekor onta yang terikat kuat apa bila dia tidak selalu mengulang-ulang hafalannya tersebut.
تعاهدواالقرآن فوالذى نفس محمد بيده لهو أشد تفلتامن الابل فى عقلها (متفق عليه عن أبي موسى)
 “ Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor onta dari ikatannya” (H.R. Bukhari) 

Selasa, 29 April 2014

Mengapa Aku ingin Menjadi Penghafal al-Qur'an

Bisa membaca al-Qur'an itu keutamaan. Bisa menghafal Al-Qur'an adalah lebih utama. Bisa memahami Al-Qur'an itu adalah kewajiban. Paham ditambah hafal itu jauh lebih afdhal, betul!?? Mengamalkan nilai-nilai al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari itu adalah tuntutan. Namun, mengamalkan karena termotivasi karena hafalan adalah lebih aman setiap saat.
Setidaknya, itu yang harus kita renungkan bersama-sama sebagai seorang Muslim sejati. Ya, menghafal Al-Qur'an merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan setiap Muslim. Penerapan ajaran Islam secara baik tidak akan bisa dilakukan tanpa interaksi yang kuat dengan Al-Qur'an. Generasi sahabat dan salaf shaleh dahulu telah membuktikan hal itu.
Berikut beberapa alasan dari sekian banyak alasan mengapa kita harus menghafal Al-Qur’an : 
1. Menghafal adalah landasan awal ketika Rasulullah menerima Al-Qur'an dari malaikat Jibril alaihissalam.
Allah berfirman dalam al-Qur'an:
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
Artinya: "Bahkan Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang menjelaskan (terdapat) di dalam dada-dada orang-orang yang diberikan ilmu..."(QS al-Al-Ankabut: 49)”.
Sungguh, betapa indahnya ayat ini; Allah menjelaskan tentang kedahsyatan aktifitas dada orang-orang yang menghafal ayat-ayat Allah SWT. Mereka inilah orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah SWT. Dengan kata lain, ayat di atas menjelaskan bahwa Dia akan memilih dari sekian hamba-hamba-Nya di muka bumi untuk kemudian dijadikan sebagai wadah bagi firman-firman-Nya. Sungguh ini merupakan keutamaan yang besar. Maukah kita termasuk sebagai manusia pilihan tersebut?. 

Jumat, 10 Mei 2013

Hafidzul Qur’an: adalah nikmat yang tiada terkira

TUHAN begitu penuh kasih kepada kita, penuh rasa sayang yang terpendar memayungi ratapan hati dan keinginan kita. Manusia berencana dan berbuat namun Tuhan jualah yang menentukan. Sungguh scenario Tuhan, jauh lebih fantastis dari produser-produser film manapun, dan kita, adalah actor terbaikNya di muka bumi. Masing-masing kita dianugerahi kelebihan untuk kita syukuri, dan kekurangan untuk kita perbaiki, jika Ippho Santosa mengatakan dari pada memperbaiki kekurangan, lebih baik mengoptimalkan dan mengasah kelebihan kita. Tidak bagi saya, kelebihan untuk terus kita syukuri dan ditempatkan sesuai kapasitasnya dan tentang kekurangan kita?tentu saja harus diperbaiki dunk, betul tidak??. Sebagian dari kita, diberi nikmat kesempatan dan sementara yang lain mencari dimana kesempatan itu disimpanNya, sebagian kita dipilih karena kita patut dipilih, namun sebagian yang lain, mematutkan diri untuk dipilih. Allah tahu apa yang kau mau, kawan…
keajaiban-al-quranSeorang hafadzatul quran yang didadanya terukir ayat-ayat alquran dan setiap sikap dan tingkah lakunya terpancar cahaya alquran maka sungguh inilah insane paripurna. Jika kita adalah bagian seorang itu, maka syukur tidak lah cukup dengan kata Alhamdulillah, penjagaannya membutuhkan pengorbanan dan ke-istiqomahan, sungguh (hafalan) alquran tidak diperoleh karena begitu cerdas dan pintarnya otak kita, tapi karena keistiqomahan dan rahim-Nya yang telah memilih kita. Tidak ada dalam literature kitab suci kita yang menyatakan bahwa para malaikat bersama orang-orang yang cerdas. Sungguh bersama orang-orang yang selalu istiqomah dijalanNya-lah malaikat akan turun dan melebarkan sayapnya, menaungi setiap langkah kita dan menjadikan hati para mukmin tenang dan tentram, kemudahan dalam segala urusan dan kelapangan dalam kehidupan. SubhanAllah, maha suci Allah atas segala nikmatNya.
Nikmat adalah amanah yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapanNya, nikmat adalah sesuatu yang tersandar dalam diri kita untuk kita tunaikan sesuai tempatnya. Diri kita adalah putih, hati kita begitu bening, maka saat nikmat itu tidak tertunaikan, maka serpihan debu menghalangi pantulan cahayanya, pantulan kebaikan tak kan memancar dari hati yang tertutup oleh kabut kesombongan dan kepongahan. Mungkin kita beranggapan, ahh… memang diri ini pantas untuk mendapatkan nikmat ini, karena saya memang pantas. Saya pantas mendapatkan alquran, karena saya cerdas. Saya pantas kaya, karena saya adalah pekerja handal. Sekali lagi tidak saudaraku… sungguh ini karena rahman dan rahimNya pada kita. Ummat yang selalu ingkar dan bermaksiat padaNya! -semoga Allah menjaga kita dari hal-hal yang menjauhkan kita padaNya-
Alquran membawa syafaat bagi ahlinya, maka jangan pernah ingkar dan berpaling darinya. Karena disamping alquran menjadi hujjah bagi kita, tapi juga bisa menjadi hujatan atas kita. Saya teringat dengan pesan almarhum kyai Idris jauhari (allahummaghfirlahu), pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, “Anakku… kamu sudah hafal Kaamilul Quran?” saya jawab singkat, Alhamdulillah sudah, Pak Kyai, “Bagaimana dengan pendidikanmu?”, Alhamdulillah sudah menyelesaikan s1 pak kyai, “ingat nak… s1 itu hanya formal, dan pendidikan formal itu hanya untuk wet ma gewet (sok-sok gawat-madura-) tok!, alquran-mu lah yang paling berharga, maka saat alquran pergi darimu, maka sungguh telah lepas selimut kehormatan darimu! Dijaga anakku…”.
Untuk saudara-saudaraku yang sedang diguyur kenikmatan dan keberkahan.
Untuk rekan-rekan yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi…
Untuk adik-adikku yang sebentar lagi akan diwisuda alqurannya…
Jika kita menghidupkan alquran, maka sungguh alquran akan menghidupkan kita, dan ingat! Jangan mencari penghidupan dari alquran, tapi hiduplah dengan menghidupi alquran. Semoga Allah menganugerahkan keberkahan umur, rizki yang halal, dan ilmu yang bermanfaat. Amien…

Senin, 14 Mei 2012

Menghafal Al-Quran adalah Perjuangan Penuh Kehormatan

Menghafal alquran tidak seperti halnya menghafalkan pelajaran biologi, atau sejarah. Alqur’an mempunyai seni tersendiri. Seolah-olah alquran merupakan makhluk hidup yang bisa mengerti kita. Saat kita berusaha dan berjuang untuk mendapatkan alquran, maka seiring itu pula, alquran perlahan mendekat pada kita, namun sebaliknya, saat kita menduakan alqruan, alquran seolah begitDSC00102u sulit untuk kita rangkul. Ada banyak hal yang menghambat kita dalam menghafal alquran, salah satunya sebagaimana Imam Syafii memaparkan tentang kesulitan beliau dalam menghafal. Maksiat. Rasanya sulit sekali kita lepas dari yang namanya maksiat. Konon, imam syafii hilang sekian juz setelah tanpa sengaja melihat “betis” seorang wanita. Luar biasa bukan? hanya karena tanpa sengaja melihat! Saya ulang lagi, tanpa sengaja melihat!! Lalu bagaimana dengan kita sekarang?

Senin, 03 Oktober 2011

KeOtentikan al-Qur'an

disadur dari membumikan al-Qur'an, karya : Quraish Shihab

Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya) (QS 15:9). Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi saw. Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di atas, karena seperti yang ditulis oleh almarhum 'Abdul-Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan keotentikannya."1 Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.