Minggu, 10 Mei 2015
Ada Hikmah dalam Ketidaktahuan Kita?
Jumat, 10 Mei 2013
Hafidzul Qur’an: adalah nikmat yang tiada terkira
Nikmat adalah amanah yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapanNya, nikmat adalah sesuatu yang tersandar dalam diri kita untuk kita tunaikan sesuai tempatnya. Diri kita adalah putih, hati kita begitu bening, maka saat nikmat itu tidak tertunaikan, maka serpihan debu menghalangi pantulan cahayanya, pantulan kebaikan tak kan memancar dari hati yang tertutup oleh kabut kesombongan dan kepongahan. Mungkin kita beranggapan, ahh… memang diri ini pantas untuk mendapatkan nikmat ini, karena saya memang pantas. Saya pantas mendapatkan alquran, karena saya cerdas. Saya pantas kaya, karena saya adalah pekerja handal. Sekali lagi tidak saudaraku… sungguh ini karena rahman dan rahimNya pada kita. Ummat yang selalu ingkar dan bermaksiat padaNya! -semoga Allah menjaga kita dari hal-hal yang menjauhkan kita padaNya-
Alquran membawa syafaat bagi ahlinya, maka jangan pernah ingkar dan berpaling darinya. Karena disamping alquran menjadi hujjah bagi kita, tapi juga bisa menjadi hujatan atas kita. Saya teringat dengan pesan almarhum kyai Idris jauhari (allahummaghfirlahu), pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, “Anakku… kamu sudah hafal Kaamilul Quran?” saya jawab singkat, Alhamdulillah sudah, Pak Kyai, “Bagaimana dengan pendidikanmu?”, Alhamdulillah sudah menyelesaikan s1 pak kyai, “ingat nak… s1 itu hanya formal, dan pendidikan formal itu hanya untuk wet ma gewet (sok-sok gawat-madura-) tok!, alquran-mu lah yang paling berharga, maka saat alquran pergi darimu, maka sungguh telah lepas selimut kehormatan darimu! Dijaga anakku…”.
Untuk saudara-saudaraku yang sedang diguyur kenikmatan dan keberkahan.
Untuk rekan-rekan yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi…
Untuk adik-adikku yang sebentar lagi akan diwisuda alqurannya…
Jika kita menghidupkan alquran, maka sungguh alquran akan menghidupkan kita, dan ingat! Jangan mencari penghidupan dari alquran, tapi hiduplah dengan menghidupi alquran. Semoga Allah menganugerahkan keberkahan umur, rizki yang halal, dan ilmu yang bermanfaat. Amien…
Sabtu, 13 April 2013
Keberpasangan
Dengan keberpasangan itu, lahirlah kerjasaman dan dengan kerjasama, hidup bersinambung lagi harmonis. Masing-masing secara berdiri sendiri memiliki keistimewaan tetapi juga kekurangan. Dengan keberpasangan, tercipta kesempurnaan dan menyatu keistimewaan itu.
Bunga-bunga yang mekar dengan indahnya, bertujuan antara lain merayu burung dan lebah agar mengantar benihnya ke kembang lain untuk dibuahi. Bukan hanya binatang dan tumbuh-tumbuhan, bahkan atom pun (yang negative dan positif) electron dan proton bertemu untuk saling tarik menarik demi memelihara eksestensinya. Demikian naluri makhluk, yang dianugerahkan Allah kepadanya. Masing-masing memiliki pasangan dan berupaya bertemu dengan pasangannya. Agaknya tidak ada satu naluri yang lebih dalam dan kuat dorongannya melebihi naluri dorongan pertemuan dua lawan jenis, pria dan wanita, jantan dan betina, positif dan negative. Itulah ciptaan dan pengaturan Allah.
Manusia dalam keberpasangannya berbeda dengan binatang. Pada umumnya ada waktu-waktu tertentu bagi binatang untuk melakukan hubungan seks. Sekian banyak binatang tidak melakukannya setelah betinanya mengandung, berbeda dengan manusia. Di sisi lain, kecenderungan seksual umumnya binatang hanya muncul pada musim bunga, tidak setiap waktu. Karena itu, “kita mendzalimi binatang” ketika memaki seseorang yang mengumbar nafsunya tanpa batas dengan menyatakan “nafsunya seperti binatang”, sebab hakikatnya nafsu manusia apalagi yang durhaka melebihi nafsu binatang bahkan tak mengenal batas.
Keberpasangan adalah aksi dari satu pihak yang disambut dengan reaksi penerimaan oleh pihak lain, satu mempengaruhi dan yang lain dipengaruhi. Atas dasar inilah law of sex berjalan, dan atas dasar itu pula alam raya diatur Allah.
Selanjutnya jika kita mengakui bahwa aksi dan reaksi atau pengaruh mempengaruhi merupakan kodrat segala sesuatu. Maka, harus diakui pula bahwa tiada keistimewaan bagi yang melakukan alsi dari segi fungsinya sebagai pelaku, dan tidak juga ada kekurangan bagi yang menerima reaksinya. Walaupun harus diakui bahwa yang melakukan aksi lebih kuat dari yang menerima. Seandainya jarum tidak lebih keras dari kain atau pacul tidak lebih kuat dari tanah, maka tidak aka ada jahit menjahit, tidak juga ada hasil pertanian. Karena itu, jantan atau lelaki, selalu mengesankan kekuatan dan penguasaan, sementara betina atau perempuan mengesankan kelemahlembutan dan penerimaan. Namun demikian, sekali lagi kekuatan atau kelemahlembutan disini, sama sekali tidak menunjukkan superioritas satu pihak atas pihak yang lain, tetapi masing-masing memiliki keistimewaannya dan masiing-masing membutuhkan yang lain guna tercapainya tujuan bersama.
Bagi manusia, mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Ketersendirian (dan lebih hebat lagi keterasingan) sungguh dapat menghantui manusia karena manusia pada dasarnya adalah makhluk social, makhluk yang membawa sifat dasar ketergantunga.
Memang sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia menikah, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa. Tetapi harus diingat bahwa keberpasangan manusia bukan hanya didorong oleh desakan naluri seksual, tetapi lebih dari itu, ia adalah dorongan kebutuhan jiwanya untuk meraih ketenangan. Ketenangan itu yang didambakan oleh suami khususnya saat ia keluar rumah dan anak istrinya, dan dibutuhkan pula oleh istri lebih-lebih ketika suami meninggalkannya keluar rumah. Ketenangan serupa juga dibutuhkan anak-anak bukan saja saat berada ditengah keluarga, tetapi sepanjang masa. Entah apa yang terjadi dalam detik-detik jantung seorang perempuan dan lelaki yang berpasangan secara sah, sehingga bersedia menurut istilah al-Qur’an dalam surat an-Nisa: 21 (afdha ba’dhukum ila ba’dh). wallahu a’lam bisshowab..
Senin, 17 Agustus 2009
Pagi dengan Surat Al-Fajr
Alhamdulillah,,pagi ini gak sedingin biasanya, pagi yang begitu semarak. Dijalan, ku lihat burung-burung berkejaran bercuit ria, seolah ingin mengatakan pagi ini begitu indah, sayang jika dilewatkan dengan memeluk guling dan bersajadahkan kasur. Pada hari ini pula, Indonesia berulang tahun ke-64, ternyata negaraku ini sudah cukup tua, bahkan jauh lebih tua dari pada negara tetangga Malaysia dan singapura, tapi napa y kO indonesia gak maju-maju? apa karena mayoritas penduduknya seperti saya, yang “hanya” duduk berpikir memikirkan nasib serta umur yang terus berkurang, sementara kaki dan tanganku duduk bersila. Atau mungkin, karena pemerintahan kita sudah seperti kakek buyutku yang termakan usia untuk kembali memikul “landuk” dan clurit ke sawah. Alah..bukankah orang-orang pintar disekitar kita udah banyak, kenapa saya harus memikirkanya???.
Minggu, 02 Agustus 2009
Percaya Diri, Diri yang Mana?
Semestinya kita tak memecah-belah diri menjadi berkeping-keping seperti itu. Diri adalah diri yang menyatukan semua pecahan-pecahan diri yang kita ciptakan sendiri. Kesatuan itulah yang disebut dengan integritas. Dan hanya sebuah kekuatan dari dalam diri yang paling dalamlah yang mampu merengkuh menyatukan anda. Diri itulah yang patut anda percayai, karena ia mampu menggenggam kekuatan fisik, keunggulan pikiran dan kehalusan budi anda. wallahu a'lam
Jumat, 31 Juli 2009
kita adalah tempayan retak
Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar; masing-masing tergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.
Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa banggaakan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.





