Kata mereka...

Keindahan adalah menatap keabadian diri sendiri didalam cermin_ Kahlil Ghibran.

Kata mereka...

Keraguan adalah rasa sakit karena kesepian untuk mengetahui bahwa iman adalah saudara kembarnya.

Kata mereka...

Iman adalah sebuah oasis di jantung yang tidak akan pernah dijangkau oleh segerombolan pikiran.

Kata mereka...

Iman adalah pengetahuan dalam hati, di luar jangkauan bukti.

Kata mereka...

Cinta tidak memiliki dan tidak akan dimiliki, karena cinta telah cukup bagi cinta itu sendiri.

Sabtu, 13 April 2013

Keberpasangan

Firman Allah: “Maha Suci Tuhan yang Telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”
Dalam kehidupan yang kita alami ini, terlihat dengan jelas adanya keberpasangan. Ada malam ada siang, ada pagi ada sore, ada senang ada susah, ada jantan ada betina, demikian seterusnya. Hanya Sang Khaliq, Allah swt yang tidak ada pasangan-Nya, tidak ada pula keserupaan-Nya. Listrik pun berpasangan, ada arus positif dan ada arus negative, bumi tempat yang kita huni pun, ada kutubnya yang negative ada juga yang positif, bahkan atom yang tadinya diduga merupakan wujud yang terkecil dan tidak dapat terbagi, ternyata ia pun berpasangan dari electron dan proton.
Dengan keberpasangan itu, lahirlah kerjasaman dan dengan kerjasama, hidup bersinambung lagi harmonis. Masing-masing secara berdiri sendiri memiliki keistimewaan tetapi juga kekurangan. Dengan keberpasangan, tercipta kesempurnaan dan menyatu keistimewaan itu.
Bunga-bunga yang mekar dengan indahnya, bertujuan antara lain merayu burung dan lebah agar mengantar benihnya ke kembang lain untuk dibuahi. Bukan hanya binatang dan tumbuh-tumbuhan, bahkan atom pun (yang negative dan positif) electron dan proton bertemu untuk saling tarik menarik demi memelihara eksestensinya. Demikian naluri makhluk, yang dianugerahkan Allah kepadanya. Masing-masing memiliki pasangan dan berupaya bertemu dengan pasangannya. Agaknya tidak ada satu naluri yang lebih dalam dan kuat dorongannya melebihi naluri dorongan pertemuan dua lawan jenis, pria dan wanita, jantan dan betina, positif dan negative. Itulah ciptaan dan pengaturan Allah.
Manusia dalam keberpasangannya berbeda dengan binatang. Pada umumnya ada waktu-waktu tertentu bagi binatang untuk melakukan hubungan seks. Sekian banyak binatang tidak melakukannya setelah betinanya mengandung, berbeda dengan manusia. Di sisi lain, kecenderungan seksual umumnya binatang hanya muncul pada musim bunga, tidak setiap waktu. Karena itu, “kita mendzalimi binatang” ketika memaki seseorang yang mengumbar nafsunya tanpa batas dengan menyatakan “nafsunya seperti binatang”, sebab hakikatnya nafsu manusia apalagi yang durhaka melebihi nafsu binatang bahkan tak mengenal batas.
Keberpasangan adalah aksi dari satu pihak yang disambut dengan reaksi penerimaan oleh pihak lain, satu mempengaruhi dan yang lain dipengaruhi. Atas dasar inilah law of sex berjalan, dan atas dasar itu pula alam raya diatur Allah.
SOLEHAHJika kita mengakui bahwa keberpasangan merupakan ketetapa ilahi yang berlaku umum (dan ini harus diakui karena kenyataan membuktikannya) maka harus diakui pula bahwa ia bukanlah sesuatu yang kotor atau najis, tetapi bersih, suci lagi terhormat dan selalu harus bersih suci dan terhormat. Itu salah satu sebab mengapa dalam surat yasin ayat 36 tersebut dimulai dengan kata subhana/maha suci Allah. Tidak dibenarkan adanya noda pada seks, dan setiap noda yang mungkin muncul harus segera dihindari. Dari sini pertemuan laki dan perempuan harus disertai kebersihan dan kesucian.
Selanjutnya jika kita mengakui bahwa aksi dan reaksi atau pengaruh mempengaruhi merupakan kodrat segala sesuatu. Maka, harus diakui pula bahwa tiada keistimewaan bagi yang melakukan alsi dari segi fungsinya sebagai pelaku, dan tidak juga ada kekurangan bagi yang menerima reaksinya. Walaupun harus diakui bahwa yang melakukan aksi lebih kuat dari yang menerima. Seandainya jarum tidak lebih keras dari kain atau pacul tidak lebih kuat dari tanah, maka tidak aka ada jahit menjahit, tidak juga ada hasil pertanian. Karena itu, jantan atau lelaki, selalu mengesankan kekuatan dan penguasaan, sementara betina atau perempuan mengesankan kelemahlembutan dan penerimaan. Namun demikian, sekali lagi kekuatan atau kelemahlembutan disini, sama sekali tidak menunjukkan superioritas satu pihak atas pihak yang lain, tetapi masing-masing memiliki keistimewaannya dan masiing-masing membutuhkan yang lain guna tercapainya tujuan bersama.
Bagi manusia, mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Ketersendirian (dan lebih hebat lagi keterasingan) sungguh dapat menghantui manusia karena manusia pada dasarnya adalah makhluk social, makhluk yang membawa sifat dasar ketergantunga.
Memang sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia menikah, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa. Tetapi harus diingat bahwa keberpasangan manusia bukan hanya didorong oleh desakan naluri seksual, tetapi lebih dari itu, ia adalah dorongan kebutuhan jiwanya untuk meraih ketenangan. Ketenangan itu yang didambakan oleh suami khususnya saat ia keluar rumah dan anak istrinya, dan dibutuhkan pula oleh istri lebih-lebih ketika suami meninggalkannya keluar rumah. Ketenangan serupa juga dibutuhkan anak-anak bukan saja saat berada ditengah keluarga, tetapi sepanjang masa. Entah apa yang terjadi dalam detik-detik jantung seorang perempuan dan lelaki yang berpasangan secara sah, sehingga bersedia menurut istilah al-Qur’an dalam surat an-Nisa: 21 (afdha ba’dhukum ila ba’dh). wallahu a’lam bisshowab..

Selasa, 09 April 2013

Kebetulan-Ku

Percaya dengan kata “kebetulan”?. Kebetulan saya masuk pondok, lalu hafidh (Hafal) alquran. Kebetulan saya bekerja disini dan karir melambung tinggi sehingga saya sukses. Kebetulan saya bertemu dengannya, lalu saya suka padanya. Kebetulan saya lewat sini, lalu terjatuh, atau apapun bentuk kebetulan itu baik yang berujung baik atau buruk. Toh, bumi dan isinya diciptakan-Nya secara “kebetulan”? iya kah?.
Tinta ketetapannya telah mengerik, coretan pena takdir telah ditorehkan rapi dalam catatan panjang dilauh mahfudz sana. Rasanya tidak ada kata “kebetulan” dalam kamus-Nya. “Oh, maaf.. saya kebetulan saja menulis makalah ini”, rasanya aneh dan kurang logis kayaknya, betul??. Tidak ada apapun yang olehNya diciptakan atau terjadi secara kebetulan, karena “kebetulan” itu sendiri adalah proses, cara atau pembelajaran dari Tuhan untuk mendidik kita, dan bukankah “kebetulan” itu sendiri lahir dari suatu pilihan?. kita masuk pondok, karena kita memilih entah itu dalam keadaan terpaksa atau tidak. Kita bekerja dan sukses adalah karena kita memilih untuk berusaha. Rasa suka padanya, dan mengapa suka itu ada adalah karena kita memilihnya, yang kemudian kita sebut dengan “kebetulan”.

Pohon Terlarang


Semua ulama sepakat, bahwa manusia pertama adalah adam, yang sempat tinggal beberapa waktu di Surga hingga akhirnya Allah menakdirkanya untuk tinggal di bumi bersama ibu hawa. Adalah sebuah ketentuanNya kepada adam untuk makan dan minum atas kehendaknya, kecuali satu pohon terlarang. Jangankan untuk memakannya, mendekatinya saja tidak  boleh, sebagaimana firmannya surat al-baqarah, “wahai adam... tinggallah kamu dan istrimu (hawa) di surga, dan makanlah apa-apa yang didalamnya sepuasmu. Akan tetapi jangan kamu dekati pohon ini, sehingga kamu menjadi orang-orang yang dholim”. Saking pentingnya, Allah mengulang Ayat ini terulang beberapa kali di alquran, di juz 8 surat al-An’am, juz 14 surat al-Hijr, juz 23 di surat Shod, agar kita selalu mengambil pelajaran dari peristiwa turunnya adam dari syurga. Pertanyaannya adalah, apakah pohon yang dimaksud itu?? Sebagian pakar mengkhususkan pohon ini, ada yang berpendapat pohon yang dimaksud adalah pohon Tin, tapi pendapat ini sangat lemah, terlepas dari itu, rasanya tidak ada guna kita meraba-raba apa lagi menentukan jenis pohon apa yang dimaksud ayat ini. Andai itu penting, tentu Allah akan menyebutnya di alquran atau melalui lisan nabi SAW dalam hadits-nya.
Di antara sekian banyak pohon terlarang, ada yang telah diakui bahayanya, dan telah lahir peraturan yang jelas tentang larangannya serta hukum yang tegas bagi pelanggarnya, yakni pohon candu opium. Pohon Opium, semua sepakat bahan pohon ini terlarang, bahkan semua negara mengkampanyekan untuk pemusnahan tumbuhan ini (bagi yang tidak berizin), karena pohon ini merupakan cikal bakal dari NARKOBA. Sebagian lain, menggunakan pohon ini sebagai obat dengan dosis tertentu. Karena dengan mengkonsumsinya akan menimbulkan efek kecanduan dan ketergantungan.

Senin, 14 Mei 2012

Menghafal Al-Quran adalah Perjuangan Penuh Kehormatan

Menghafal alquran tidak seperti halnya menghafalkan pelajaran biologi, atau sejarah. Alqur’an mempunyai seni tersendiri. Seolah-olah alquran merupakan makhluk hidup yang bisa mengerti kita. Saat kita berusaha dan berjuang untuk mendapatkan alquran, maka seiring itu pula, alquran perlahan mendekat pada kita, namun sebaliknya, saat kita menduakan alqruan, alquran seolah begitDSC00102u sulit untuk kita rangkul. Ada banyak hal yang menghambat kita dalam menghafal alquran, salah satunya sebagaimana Imam Syafii memaparkan tentang kesulitan beliau dalam menghafal. Maksiat. Rasanya sulit sekali kita lepas dari yang namanya maksiat. Konon, imam syafii hilang sekian juz setelah tanpa sengaja melihat “betis” seorang wanita. Luar biasa bukan? hanya karena tanpa sengaja melihat! Saya ulang lagi, tanpa sengaja melihat!! Lalu bagaimana dengan kita sekarang?

Sabtu, 12 Mei 2012

Catatan spontanitas tentang Cinta: Perempuan dan kodratnya sebagai Ibu

kemarin banyak ku terima posting tentang seorang figur malaikat tuhan yang bernama "ibu". Masing-masing penulis, mengenalkan wajah dan sketsa lekuknya dengan kata-kata dan untaian puisi cinta yang luarbiasa, dan memang sungguh layak, karena ibu adalah sosok luar biasa, sosok lembut yang berubah menjadi sekeras karang demi melihat anaknya tercinta tersenyum menggapai balon cita dan asanya. tidak peduli kaki melepuh karena panasnya kerak aspal jalan raya, kebarat-ketimur mencari sesuap uang receh, demi anknya tersenyum dan mencicipi satu permen karet seharga 500 rpiah. Ibu memang sangat luarbiasa, robeknya hati karena cinta, luka hati karena tersakiti oleh kata, cucuran keringat yang membasahi dan rintih kesakitn yang diderita badannya seolah tidak pernah secuilpun mengurangi semangatnya untuk terus berada disamping putra-putrinya. lalu bagaimana dengan kita...

orang yang selalu beliau bangga-banggakan..
orang yang selalu beliau nina bobokkan saat kita masih kecil..memperdengarkan cerita indah kepahlawanan sultan shalahudin al-ayyubi, khalid bin walid, umar bin khattab dan rasulullah saw.
lalu bagaimana dengan kita...
orang yang selalu beliau ratapi ditengah malamnya..
bermunajat memohon ampunan dan kelanggengan dalam segala hal..
orang yang selalu beliau kasihi..
orang yang selalu beliau katakann "inilah malaikat kecil titipan allah padaku,,"
dialah kunci surgaku..
dialah penjaminku.."

lalu bagaimana dengan kita...
kita disibukkan dengan kesibukan duniawi. mencari uang, mencari kehidupan, mencari kesejahteraan.
apakah semua itu benar-benar akan menebus satu guratan kesedihan sang ibu. saya teringat suatu hadits, "ketika datang seorang anak melapor kepada rasulullah, melaporkan bahwa orang tuanya meminta harta yang telah ia kumpulkan dari hasil keringatnya, dan apa jawaban rasulullah, "dirimu dan hartamu adalah milik orang tua mu, seluruh hartamu, tidak akan mampu menggantikan satu tangisan ibumu, atao bahkan satu senyuman ketika membuaimu".

tidak saudaraku..sekali lagi tidak.. dunia akan membutakan kita, melenakan dan membuai kita dalam kesenangan sesaat, ibu kita, tidak butuh itu..
lalu bagaimana dengan kita saudaraku..

kita disibukkan dengan diri pribadi kita. "alahhh..saya sudah besar, saya sudah bekerja,,hidupku adalah hidupku toh aku juga masih bisa membantu meringankan beban orang tua dg membiayai adiku atau bahkan mengirim orang tua.". kesombongan financial, emosi dan ambisi. pufh..kita terlalu disibukkan dengan semua keinginan kita. saya rasa semua sepakat bahwa kita meningnkan pasangan yang ideal, yang mengerti kita, yang sempurna dipandang kita. namun sayang justru, keingnan seperti itu yang banyak menyibukkan dan menyita emosi kita. sejenak kembali, berapa waktu yang kita sediakan untuk ibu kita, bukankah waktu yang telah lewat tidak akan kembali, masihkah mungkin besok, lusa, atau minggu depan, kita masih melihat guratan senyum diujung pintu menunggu kedatangan kita??"

kita disibukkan oleh diri kita..
kita mengejar cinta..cinta yang bagaimana??
cinta yang seperti apa?? mari kita lihat cinta sang Ibu?pernahkah ada keluh kesah keluar dari bibirnya yang dialamatkan untuk kita. pernah kah teruntai kata. "nak..sy merawat kamu sejak kecil, biaya perawatan memandika, Rp. 2000, menyuapi, 1000. menidurkan, mengganti popok dan lain-lain sekian ribu..pernahkah????.

cinta yang bagaimana, yang kita kejar???
saya menyayangimu setulus hati, maka kamu harus menyayangiku juga setulus hati. karena saya tidak selingkuh, maka kamu jangan selingkuh. atao mungkin, mas terserah wanita yang mana yang kamu pilih hati saya akan selalu menunggu..itu kah?. bagaimana dengan cinta ibu kita, pernahkah kalian "nak. karena saya sudah mencintaimu dan merawarmu sejak kecil maka kamu sekarang gantian yang harus menjagaku..!. CINTA YANG BALAS DENDAM" tidak saudaraku..sekali kali tidak. cintanya tidak begitu..lalu mengapa kita disibukkan dengan cinta semu yang membawa kita pada ksedihan berkepanjangan, harapan yang menggantung atau apalah.. mengapa sesosok manusia, seonggok daging itu yang kita gantungkan harapan. mengapa harus laki-laki itu yagn kita kejar cintanya..mengapa wanita itu yang kita harapkan menjaga rumah dan hati kita? dy yg belum halal bagi kita!! belum halal...

cinta memang sangat indah, penuh warna dan tidak berwarna jingga saja..
cinta mencairkan batu yang keras..
cinta melembutkan lelaki yang kasar sekalipun..
dan cinta membuat dunia ini selalu ramai bercerita..
allah menganugerahkan kita cinta, sebagaiaman allah menganugerahkan cinta ibu untuk kita anak-anaknya..

cinta adalah anugerah..
jangan nodai cinta itu dengan perbuatan kita yang tak pantas.
mari kita jaga agar cinta itu bersemayam indah, terpupuk dengan baik sehingga menumbuhkan pohon-pohon ibadah yang mendekatkan kita pada san maha Cinta, menumbuhkan bibit kebaikan untuk kita, ibu kita dan keluarga kita.

untuk saudaraku yang terus berjuang dengan membawa panji ibu, abah dan keluarganya..
ubahlah duniamu dengan Cinta-Nya. resapi cinta ibu dan abah kita.. renungi cinta kepada orang yang peduli pada kita.

semoga cinta kita membawa orang-orang yang kita cintai ke surgaNya penuh cinta. yang tidak ada keresahan, kesedihan, dan taman orang-orang pilihannya yang penuh suka cita.
dari hati penuh cinta, saudara mu..alfaqir ila rabbih...

- suatu pagi di kompleks asrama tahfidh al-amien prenduan, 24 Desember 2011
































































Kamis, 15 Desember 2011

In Memorial: Great Teacher, KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA

Profil:
KH. Moh. Tidjani Djauhari MA lahir di Sumenep, Madura pada 24 Dzulqa’dah 1365 H/23 Oktober 1945 M. Alumni I Gontor (1964) ini menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Fakultas Syari’ah wa Dirasat al-Islamiyah pada 1969, dan lulus pendidikan S2 dengan yudisium Cumlaude di Universitas Malik Abdul ‘Aziz Makkah pada 1973 dengan tesis: “Tahqîq Kitâb Fadhâ`il al-Qur`ân wa Ma’âlimuhu wa Âdâbuhu li al-Imâm Abû ‘Ubaid al-Qâsim Ibnu as-Sallâm al-Harawi al-Baghdâdî”. Hingga akhir hayatnya, beliau masih terdaftar sebagai kandidat Doktor bidang Ilmu Tafsir di Universitas Al-Azhar Mesir. Selama masa hidupnya, penulis telah dipercaya memegang beberapa jabatan penting internasional di Rabithah ‘Alam al-Islami (Muslim World League) dari kurun 1974-1988. Jabatan yang sempat dipercayakan antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bidang Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), serta Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran Menyimpang (1983-1988). Sekembalinya ke tanah air, beberapa jabatan nasional juga telah beliau pegang. Antara lain: Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura (1989-akhir hayatnya), Koordinator Pusat Badan Silaturrahmi Ulama Madura (BASSRA) (1992), Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jawa Timur (1995-2000), Pendiri Badan Silaturrahim Pondok Pesantren (BSPP) (1998),

Kamis, 13 Oktober 2011

Catatan : Tentang Saudaraku, sahabatku dan teman seperjuanganku

Ada kebanggaan tersendiri, saat adik-adik dan temen seperjuangan dipondok akan dikirim untuk mengajar di Makassar, sebagian dari mereka malah masih berumur 17 tahun, saat dimana teman-teman sebayanya duduk dibangku sekolah menengah atas atau yang sederajat. Satu tahun setengah bersama, sudah sangat mengeratkan ikatan emosional kami, mengejar target hafalan, kerjaan kantor dan administrasi yang menumpuk, sampai target wisuda dengan persiapan yang “hanya” satu bulan. Bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan, berpendar meramaikan malam saat beberapa teman terlelap, teriak-teriak ditengah masjid di siang hari, demi suksesnya setoran murajaah sore dan meminimalisir “kekecewaan” yang ustadz kami, saat menyimak hafalan kami. Kami bukanlah santri yang sangat menonjol, mutik, atau apalah istilah santri yang “baik-baik”. Kadang, beralasan tugas pondok, pergi muter-muter Surabaya, atau pekerjaan yang harusnya di-pending, diawalkan agar tidak ikut jam setoran, nge-less karena belum siap setoran, apalagi kalo sudah Barcelona akan tampil dalam laga champion atau bahkan, setingkat laga persahabatan kami sudah pasang kuda-kuda, siang hari tidur dan malamnya “sahirallayaali”, muter-muter mencari warung kopi dan begadang hanya sekedar ingin melihat pemain favorit kami menjebol gawang lawan, sehingga bisa dipastikan, esok harinya ada yang beralasan sakit gigi (agar tidak ikut jam setoran), sakit pinggang bahkan ada yang sakit kaki, alas an sakit yang kadang tidak nyambung,hehe… bahkan, ada salah satu teman kami, yang memiliki keakurat pandangan mata kurang (tapi anehnya kalau melihat akhwat, radarnya langsung nangkap,hehe..tapi jangan ditanya soal hafalannya, dijamin ngewes..), sehingga jika dia berjalan malam, harus dituntun dan dipapah(maklum dia rabun senja), rela berjalan sambil meraba-raba (karna gak ada yang ngantar) demi melihat Liverpool bertanding. Meski kalah, dia akan sesumbar, “tenang saja mas..liverpool itu hanya mengalah, apalagi steven gerradl gak bisa main karena sakit encok”. Dan sadisnya, ada teman satunya lagi yang memanfaatkan moment tersebut, kadang dia dituntun menuju sawah antah berantah, sehingga mendarat dikubangan lumpur, nambrak tembok, ke-jedug tiang telpon, dan beberapa kejadian lain. Semoga Allah memberikan kesembuhan baginya, amien…
Saya teringat suatu moment yang sangat membekas dalam diri saya, dalam perjalanan saya nyantri di Surabaya, kiai kami, Ust. Mudawi Ma’arif sangat disegani, mengingat beliau jarang marah, bahkan untuk mengangkat suara sekalipun, apalagi kalau sudah membahas masalah tafsir, seolah-olah ayat apapun bisa beliau bawa untuk menegur dan mengingatkan kami, dengan suara lantang beliau membaca “atastabdiluuna billadzi huwa adna billadzi huwa khoir..”, kalian adalah penghafal alqur’an, dan alqur’an mulya dibanding kalam-kalam yang lain, bagaikan kemulyaan-Nya disbanding makhluk-Nya, maka jika kalian terdetak dan berniat berhenti untuk menghafal, maka sesungguhnya kalian menghendaki untuk berhentinya diri kalian dari kemulyaan, bukankah Allah telah memulyakan kalian wahai ummat manusia (surat al-isra’)?, lalu apakah kalian mau, kemulyaan akhirat yang akan kalian pearoleh, ditukar dengan gemerlap kehidupan?..”, demikian kurang lebih paparan guru kami. Padahal, kalo diliat, susuna ayat tersebut, adalah saat alquran menceritakan bagaimana sifat bani israil. Kembali ke cerita awal, kami berada di kantor. Setelah sekian lama tidak mendengar music, tumben-tumbennya saya ingin mendengar lagu-lagu mello yang dulu saya gandrungi, sehingga diputarlah, lagu Ibu-milik iwan fals-, merepih alamnya chryse dan kupu-kupu malam miliknya ariel peterpan, hufh..selang beberapa waktu terdengar suara “astagfirullah…apa ini?, bayu..matikan..astagfirullah..hapus semuanya!!”, saya tercekat, saat ku menoleh ust. Mudawi berdiri dihadapan kami, tatap memerah wajah teduh beliau, dan kulihat, temanku Bayu tergagap didepan computer bingung mematikan music berikut komputernya. Setelah berkata begitu, beliau langsung keluar, dan kami semburat mencari tempat aman untuk bersembunyi, (padahal tidak dibagian sudut manapun dari pondok ini, aman dari beliau pantauan beliau).


Hari ini, 07 oktober mereka berangkat menuju Makassar, mereka akan mengemban tugas dakwah membumikan alquran, menyiarkan dan mengajarkan alqur’an. Mengajarkan alqur’an bahwa alquran begitu ajaib, begitu istimewa dan mudah dihafal. Tugas yang tidak mudah untuk adik seperjuanganku yang masih seumuran itu, dia masih suka dengan game, masih suka berkumpul dengan teman, bermain bersama mereka, futsal rame-rame walo harus bertegang urat leher dan merogoh kantong, hanya untuk memperebutkan kata “saya menang”. Dia seperti halnya teman sebayanya, yang malam jum’atnya kadang diisi dengan pertandingan bola di stadion Play Station seberang pondok, tapi yang istimewa darinya, dia adalah muhafidz yang dipilih Allah, dia punya semangat, dan dia tidak mau dikatakan “kamu Kalah, Kamu harus menyerah”.
Saudaraku, tiga bulan lalu kita masih bersama, hingga saat wisuda, senang, gembira, tegang dan sedih bercampur, saya menempuh jalan yang saya pilih. Saya kembali tepat setelah acara wisuda hifdhu kaamilul qur’an. Sampai saat ini, saya sangat merindukan kalian. Adalah benar, kita tidak lagi bersama, tapi semangat kebersamaan kita haruslah tetap ada dimanapun kita berada. Binalah kebersamaan diantara kita, tidak membedakan kaya dan miskin, hitam-putih, Madura atau jawa. “Innallah yuhibbul ladziina yuqaatiluuna fii sabiilihi soffaa ka annahum bun_yaanun marsuush”. Selamat berjuang saudaraku, “intansurullaaha yan surkum, wayutsabbit aqdaamakum”. Saya yakin umur bukanlah segalanya, pendidikan bukanlah hal satu-satunya. Karena guru yang paling baik adalah pengalaman. Semoga semoga Dunia mendewasakanmu, Alam mengajarkanmu ayat-ayatNya, dan semoga jalan dakwah menguatkan tekadmu. Ingatlah kawan, tidak ada jalan yang tidak berbatu, selalu ada kerikil kecil yang siap melukai kaki saaat kita melangkah, tidak bijak rasanya kita tersinggung dan berpikir,mengapa kerikil tajam itu harus disini?, kita harus siap sandal, bahkan perban agar saat kaki kita terluka, kita siap untuk kembali melangkah.
Salam kangen dan hormat saya, kepada adik-adiku, saudara-saudaraku, dan teman seperjuanganku. Rahmat Alfian, As’adur Rofiq, dan Miftahul Khoiri. Semoga Allah mempertemukan kembali kita di tempat dan waktu yang lebih baik, kalau tidak didunia ini, semoga di jannah firdausNya. Amien…