Kata mereka...

Keindahan adalah menatap keabadian diri sendiri didalam cermin_ Kahlil Ghibran.

Kata mereka...

Keraguan adalah rasa sakit karena kesepian untuk mengetahui bahwa iman adalah saudara kembarnya.

Kata mereka...

Iman adalah sebuah oasis di jantung yang tidak akan pernah dijangkau oleh segerombolan pikiran.

Kata mereka...

Iman adalah pengetahuan dalam hati, di luar jangkauan bukti.

Kata mereka...

Cinta tidak memiliki dan tidak akan dimiliki, karena cinta telah cukup bagi cinta itu sendiri.

Selasa, 09 April 2013

Pohon Terlarang


Semua ulama sepakat, bahwa manusia pertama adalah adam, yang sempat tinggal beberapa waktu di Surga hingga akhirnya Allah menakdirkanya untuk tinggal di bumi bersama ibu hawa. Adalah sebuah ketentuanNya kepada adam untuk makan dan minum atas kehendaknya, kecuali satu pohon terlarang. Jangankan untuk memakannya, mendekatinya saja tidak  boleh, sebagaimana firmannya surat al-baqarah, “wahai adam... tinggallah kamu dan istrimu (hawa) di surga, dan makanlah apa-apa yang didalamnya sepuasmu. Akan tetapi jangan kamu dekati pohon ini, sehingga kamu menjadi orang-orang yang dholim”. Saking pentingnya, Allah mengulang Ayat ini terulang beberapa kali di alquran, di juz 8 surat al-An’am, juz 14 surat al-Hijr, juz 23 di surat Shod, agar kita selalu mengambil pelajaran dari peristiwa turunnya adam dari syurga. Pertanyaannya adalah, apakah pohon yang dimaksud itu?? Sebagian pakar mengkhususkan pohon ini, ada yang berpendapat pohon yang dimaksud adalah pohon Tin, tapi pendapat ini sangat lemah, terlepas dari itu, rasanya tidak ada guna kita meraba-raba apa lagi menentukan jenis pohon apa yang dimaksud ayat ini. Andai itu penting, tentu Allah akan menyebutnya di alquran atau melalui lisan nabi SAW dalam hadits-nya.
Di antara sekian banyak pohon terlarang, ada yang telah diakui bahayanya, dan telah lahir peraturan yang jelas tentang larangannya serta hukum yang tegas bagi pelanggarnya, yakni pohon candu opium. Pohon Opium, semua sepakat bahan pohon ini terlarang, bahkan semua negara mengkampanyekan untuk pemusnahan tumbuhan ini (bagi yang tidak berizin), karena pohon ini merupakan cikal bakal dari NARKOBA. Sebagian lain, menggunakan pohon ini sebagai obat dengan dosis tertentu. Karena dengan mengkonsumsinya akan menimbulkan efek kecanduan dan ketergantungan.

Senin, 14 Mei 2012

Menghafal Al-Quran adalah Perjuangan Penuh Kehormatan

Menghafal alquran tidak seperti halnya menghafalkan pelajaran biologi, atau sejarah. Alqur’an mempunyai seni tersendiri. Seolah-olah alquran merupakan makhluk hidup yang bisa mengerti kita. Saat kita berusaha dan berjuang untuk mendapatkan alquran, maka seiring itu pula, alquran perlahan mendekat pada kita, namun sebaliknya, saat kita menduakan alqruan, alquran seolah begitDSC00102u sulit untuk kita rangkul. Ada banyak hal yang menghambat kita dalam menghafal alquran, salah satunya sebagaimana Imam Syafii memaparkan tentang kesulitan beliau dalam menghafal. Maksiat. Rasanya sulit sekali kita lepas dari yang namanya maksiat. Konon, imam syafii hilang sekian juz setelah tanpa sengaja melihat “betis” seorang wanita. Luar biasa bukan? hanya karena tanpa sengaja melihat! Saya ulang lagi, tanpa sengaja melihat!! Lalu bagaimana dengan kita sekarang?

Sabtu, 12 Mei 2012

Catatan spontanitas tentang Cinta: Perempuan dan kodratnya sebagai Ibu

kemarin banyak ku terima posting tentang seorang figur malaikat tuhan yang bernama "ibu". Masing-masing penulis, mengenalkan wajah dan sketsa lekuknya dengan kata-kata dan untaian puisi cinta yang luarbiasa, dan memang sungguh layak, karena ibu adalah sosok luar biasa, sosok lembut yang berubah menjadi sekeras karang demi melihat anaknya tercinta tersenyum menggapai balon cita dan asanya. tidak peduli kaki melepuh karena panasnya kerak aspal jalan raya, kebarat-ketimur mencari sesuap uang receh, demi anknya tersenyum dan mencicipi satu permen karet seharga 500 rpiah. Ibu memang sangat luarbiasa, robeknya hati karena cinta, luka hati karena tersakiti oleh kata, cucuran keringat yang membasahi dan rintih kesakitn yang diderita badannya seolah tidak pernah secuilpun mengurangi semangatnya untuk terus berada disamping putra-putrinya. lalu bagaimana dengan kita...

orang yang selalu beliau bangga-banggakan..
orang yang selalu beliau nina bobokkan saat kita masih kecil..memperdengarkan cerita indah kepahlawanan sultan shalahudin al-ayyubi, khalid bin walid, umar bin khattab dan rasulullah saw.
lalu bagaimana dengan kita...
orang yang selalu beliau ratapi ditengah malamnya..
bermunajat memohon ampunan dan kelanggengan dalam segala hal..
orang yang selalu beliau kasihi..
orang yang selalu beliau katakann "inilah malaikat kecil titipan allah padaku,,"
dialah kunci surgaku..
dialah penjaminku.."

lalu bagaimana dengan kita...
kita disibukkan dengan kesibukan duniawi. mencari uang, mencari kehidupan, mencari kesejahteraan.
apakah semua itu benar-benar akan menebus satu guratan kesedihan sang ibu. saya teringat suatu hadits, "ketika datang seorang anak melapor kepada rasulullah, melaporkan bahwa orang tuanya meminta harta yang telah ia kumpulkan dari hasil keringatnya, dan apa jawaban rasulullah, "dirimu dan hartamu adalah milik orang tua mu, seluruh hartamu, tidak akan mampu menggantikan satu tangisan ibumu, atao bahkan satu senyuman ketika membuaimu".

tidak saudaraku..sekali lagi tidak.. dunia akan membutakan kita, melenakan dan membuai kita dalam kesenangan sesaat, ibu kita, tidak butuh itu..
lalu bagaimana dengan kita saudaraku..

kita disibukkan dengan diri pribadi kita. "alahhh..saya sudah besar, saya sudah bekerja,,hidupku adalah hidupku toh aku juga masih bisa membantu meringankan beban orang tua dg membiayai adiku atau bahkan mengirim orang tua.". kesombongan financial, emosi dan ambisi. pufh..kita terlalu disibukkan dengan semua keinginan kita. saya rasa semua sepakat bahwa kita meningnkan pasangan yang ideal, yang mengerti kita, yang sempurna dipandang kita. namun sayang justru, keingnan seperti itu yang banyak menyibukkan dan menyita emosi kita. sejenak kembali, berapa waktu yang kita sediakan untuk ibu kita, bukankah waktu yang telah lewat tidak akan kembali, masihkah mungkin besok, lusa, atau minggu depan, kita masih melihat guratan senyum diujung pintu menunggu kedatangan kita??"

kita disibukkan oleh diri kita..
kita mengejar cinta..cinta yang bagaimana??
cinta yang seperti apa?? mari kita lihat cinta sang Ibu?pernahkah ada keluh kesah keluar dari bibirnya yang dialamatkan untuk kita. pernah kah teruntai kata. "nak..sy merawat kamu sejak kecil, biaya perawatan memandika, Rp. 2000, menyuapi, 1000. menidurkan, mengganti popok dan lain-lain sekian ribu..pernahkah????.

cinta yang bagaimana, yang kita kejar???
saya menyayangimu setulus hati, maka kamu harus menyayangiku juga setulus hati. karena saya tidak selingkuh, maka kamu jangan selingkuh. atao mungkin, mas terserah wanita yang mana yang kamu pilih hati saya akan selalu menunggu..itu kah?. bagaimana dengan cinta ibu kita, pernahkah kalian "nak. karena saya sudah mencintaimu dan merawarmu sejak kecil maka kamu sekarang gantian yang harus menjagaku..!. CINTA YANG BALAS DENDAM" tidak saudaraku..sekali kali tidak. cintanya tidak begitu..lalu mengapa kita disibukkan dengan cinta semu yang membawa kita pada ksedihan berkepanjangan, harapan yang menggantung atau apalah.. mengapa sesosok manusia, seonggok daging itu yang kita gantungkan harapan. mengapa harus laki-laki itu yagn kita kejar cintanya..mengapa wanita itu yang kita harapkan menjaga rumah dan hati kita? dy yg belum halal bagi kita!! belum halal...

cinta memang sangat indah, penuh warna dan tidak berwarna jingga saja..
cinta mencairkan batu yang keras..
cinta melembutkan lelaki yang kasar sekalipun..
dan cinta membuat dunia ini selalu ramai bercerita..
allah menganugerahkan kita cinta, sebagaiaman allah menganugerahkan cinta ibu untuk kita anak-anaknya..

cinta adalah anugerah..
jangan nodai cinta itu dengan perbuatan kita yang tak pantas.
mari kita jaga agar cinta itu bersemayam indah, terpupuk dengan baik sehingga menumbuhkan pohon-pohon ibadah yang mendekatkan kita pada san maha Cinta, menumbuhkan bibit kebaikan untuk kita, ibu kita dan keluarga kita.

untuk saudaraku yang terus berjuang dengan membawa panji ibu, abah dan keluarganya..
ubahlah duniamu dengan Cinta-Nya. resapi cinta ibu dan abah kita.. renungi cinta kepada orang yang peduli pada kita.

semoga cinta kita membawa orang-orang yang kita cintai ke surgaNya penuh cinta. yang tidak ada keresahan, kesedihan, dan taman orang-orang pilihannya yang penuh suka cita.
dari hati penuh cinta, saudara mu..alfaqir ila rabbih...

- suatu pagi di kompleks asrama tahfidh al-amien prenduan, 24 Desember 2011
































































Kamis, 15 Desember 2011

In Memorial: Great Teacher, KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA

Profil:
KH. Moh. Tidjani Djauhari MA lahir di Sumenep, Madura pada 24 Dzulqa’dah 1365 H/23 Oktober 1945 M. Alumni I Gontor (1964) ini menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Fakultas Syari’ah wa Dirasat al-Islamiyah pada 1969, dan lulus pendidikan S2 dengan yudisium Cumlaude di Universitas Malik Abdul ‘Aziz Makkah pada 1973 dengan tesis: “Tahqîq Kitâb Fadhâ`il al-Qur`ân wa Ma’âlimuhu wa Âdâbuhu li al-Imâm Abû ‘Ubaid al-Qâsim Ibnu as-Sallâm al-Harawi al-Baghdâdî”. Hingga akhir hayatnya, beliau masih terdaftar sebagai kandidat Doktor bidang Ilmu Tafsir di Universitas Al-Azhar Mesir. Selama masa hidupnya, penulis telah dipercaya memegang beberapa jabatan penting internasional di Rabithah ‘Alam al-Islami (Muslim World League) dari kurun 1974-1988. Jabatan yang sempat dipercayakan antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bidang Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), serta Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran Menyimpang (1983-1988). Sekembalinya ke tanah air, beberapa jabatan nasional juga telah beliau pegang. Antara lain: Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura (1989-akhir hayatnya), Koordinator Pusat Badan Silaturrahmi Ulama Madura (BASSRA) (1992), Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jawa Timur (1995-2000), Pendiri Badan Silaturrahim Pondok Pesantren (BSPP) (1998),

Kamis, 13 Oktober 2011

Catatan : Tentang Saudaraku, sahabatku dan teman seperjuanganku

Ada kebanggaan tersendiri, saat adik-adik dan temen seperjuangan dipondok akan dikirim untuk mengajar di Makassar, sebagian dari mereka malah masih berumur 17 tahun, saat dimana teman-teman sebayanya duduk dibangku sekolah menengah atas atau yang sederajat. Satu tahun setengah bersama, sudah sangat mengeratkan ikatan emosional kami, mengejar target hafalan, kerjaan kantor dan administrasi yang menumpuk, sampai target wisuda dengan persiapan yang “hanya” satu bulan. Bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan, berpendar meramaikan malam saat beberapa teman terlelap, teriak-teriak ditengah masjid di siang hari, demi suksesnya setoran murajaah sore dan meminimalisir “kekecewaan” yang ustadz kami, saat menyimak hafalan kami. Kami bukanlah santri yang sangat menonjol, mutik, atau apalah istilah santri yang “baik-baik”. Kadang, beralasan tugas pondok, pergi muter-muter Surabaya, atau pekerjaan yang harusnya di-pending, diawalkan agar tidak ikut jam setoran, nge-less karena belum siap setoran, apalagi kalo sudah Barcelona akan tampil dalam laga champion atau bahkan, setingkat laga persahabatan kami sudah pasang kuda-kuda, siang hari tidur dan malamnya “sahirallayaali”, muter-muter mencari warung kopi dan begadang hanya sekedar ingin melihat pemain favorit kami menjebol gawang lawan, sehingga bisa dipastikan, esok harinya ada yang beralasan sakit gigi (agar tidak ikut jam setoran), sakit pinggang bahkan ada yang sakit kaki, alas an sakit yang kadang tidak nyambung,hehe… bahkan, ada salah satu teman kami, yang memiliki keakurat pandangan mata kurang (tapi anehnya kalau melihat akhwat, radarnya langsung nangkap,hehe..tapi jangan ditanya soal hafalannya, dijamin ngewes..), sehingga jika dia berjalan malam, harus dituntun dan dipapah(maklum dia rabun senja), rela berjalan sambil meraba-raba (karna gak ada yang ngantar) demi melihat Liverpool bertanding. Meski kalah, dia akan sesumbar, “tenang saja mas..liverpool itu hanya mengalah, apalagi steven gerradl gak bisa main karena sakit encok”. Dan sadisnya, ada teman satunya lagi yang memanfaatkan moment tersebut, kadang dia dituntun menuju sawah antah berantah, sehingga mendarat dikubangan lumpur, nambrak tembok, ke-jedug tiang telpon, dan beberapa kejadian lain. Semoga Allah memberikan kesembuhan baginya, amien…
Saya teringat suatu moment yang sangat membekas dalam diri saya, dalam perjalanan saya nyantri di Surabaya, kiai kami, Ust. Mudawi Ma’arif sangat disegani, mengingat beliau jarang marah, bahkan untuk mengangkat suara sekalipun, apalagi kalau sudah membahas masalah tafsir, seolah-olah ayat apapun bisa beliau bawa untuk menegur dan mengingatkan kami, dengan suara lantang beliau membaca “atastabdiluuna billadzi huwa adna billadzi huwa khoir..”, kalian adalah penghafal alqur’an, dan alqur’an mulya dibanding kalam-kalam yang lain, bagaikan kemulyaan-Nya disbanding makhluk-Nya, maka jika kalian terdetak dan berniat berhenti untuk menghafal, maka sesungguhnya kalian menghendaki untuk berhentinya diri kalian dari kemulyaan, bukankah Allah telah memulyakan kalian wahai ummat manusia (surat al-isra’)?, lalu apakah kalian mau, kemulyaan akhirat yang akan kalian pearoleh, ditukar dengan gemerlap kehidupan?..”, demikian kurang lebih paparan guru kami. Padahal, kalo diliat, susuna ayat tersebut, adalah saat alquran menceritakan bagaimana sifat bani israil. Kembali ke cerita awal, kami berada di kantor. Setelah sekian lama tidak mendengar music, tumben-tumbennya saya ingin mendengar lagu-lagu mello yang dulu saya gandrungi, sehingga diputarlah, lagu Ibu-milik iwan fals-, merepih alamnya chryse dan kupu-kupu malam miliknya ariel peterpan, hufh..selang beberapa waktu terdengar suara “astagfirullah…apa ini?, bayu..matikan..astagfirullah..hapus semuanya!!”, saya tercekat, saat ku menoleh ust. Mudawi berdiri dihadapan kami, tatap memerah wajah teduh beliau, dan kulihat, temanku Bayu tergagap didepan computer bingung mematikan music berikut komputernya. Setelah berkata begitu, beliau langsung keluar, dan kami semburat mencari tempat aman untuk bersembunyi, (padahal tidak dibagian sudut manapun dari pondok ini, aman dari beliau pantauan beliau).


Hari ini, 07 oktober mereka berangkat menuju Makassar, mereka akan mengemban tugas dakwah membumikan alquran, menyiarkan dan mengajarkan alqur’an. Mengajarkan alqur’an bahwa alquran begitu ajaib, begitu istimewa dan mudah dihafal. Tugas yang tidak mudah untuk adik seperjuanganku yang masih seumuran itu, dia masih suka dengan game, masih suka berkumpul dengan teman, bermain bersama mereka, futsal rame-rame walo harus bertegang urat leher dan merogoh kantong, hanya untuk memperebutkan kata “saya menang”. Dia seperti halnya teman sebayanya, yang malam jum’atnya kadang diisi dengan pertandingan bola di stadion Play Station seberang pondok, tapi yang istimewa darinya, dia adalah muhafidz yang dipilih Allah, dia punya semangat, dan dia tidak mau dikatakan “kamu Kalah, Kamu harus menyerah”.
Saudaraku, tiga bulan lalu kita masih bersama, hingga saat wisuda, senang, gembira, tegang dan sedih bercampur, saya menempuh jalan yang saya pilih. Saya kembali tepat setelah acara wisuda hifdhu kaamilul qur’an. Sampai saat ini, saya sangat merindukan kalian. Adalah benar, kita tidak lagi bersama, tapi semangat kebersamaan kita haruslah tetap ada dimanapun kita berada. Binalah kebersamaan diantara kita, tidak membedakan kaya dan miskin, hitam-putih, Madura atau jawa. “Innallah yuhibbul ladziina yuqaatiluuna fii sabiilihi soffaa ka annahum bun_yaanun marsuush”. Selamat berjuang saudaraku, “intansurullaaha yan surkum, wayutsabbit aqdaamakum”. Saya yakin umur bukanlah segalanya, pendidikan bukanlah hal satu-satunya. Karena guru yang paling baik adalah pengalaman. Semoga semoga Dunia mendewasakanmu, Alam mengajarkanmu ayat-ayatNya, dan semoga jalan dakwah menguatkan tekadmu. Ingatlah kawan, tidak ada jalan yang tidak berbatu, selalu ada kerikil kecil yang siap melukai kaki saaat kita melangkah, tidak bijak rasanya kita tersinggung dan berpikir,mengapa kerikil tajam itu harus disini?, kita harus siap sandal, bahkan perban agar saat kaki kita terluka, kita siap untuk kembali melangkah.
Salam kangen dan hormat saya, kepada adik-adiku, saudara-saudaraku, dan teman seperjuanganku. Rahmat Alfian, As’adur Rofiq, dan Miftahul Khoiri. Semoga Allah mempertemukan kembali kita di tempat dan waktu yang lebih baik, kalau tidak didunia ini, semoga di jannah firdausNya. Amien…

Senin, 03 Oktober 2011

Klasifikasi dan Hierarki Ilmu: Posisi Logika dalam al-Ulum al-Kauniyah dan al-Ulum at-Tanziliyah

Bersama: KH. Moh. Idris Djauhari


Aktualisasi ilmu-ilmu pengetahuan lewat klasifikasinya banyak dilakukan oleh para penggiat pendidikan lebih pada sekedar mencapai kemudahan atas pencarian identitas dari ilmu tersebut.
Akan tetapi klasifikasi ilmu mencoba kembali menegakkan visi hierarkis ilmu pengetahuan tersebut dalam dunia pendidikan. Islam pun demikian, memcoba memberikan visi etis dan metodologis
dari ilmu-ilmu pengetahuan sesuai dengan pesan sentralnya sebagaimana yang termaktub
dalam kitab sucinya Al-Qur’an. Lalu dimana posisi logika – sebagai yang diakui telah
dirumuskan oleh pemikir-pemikir non-muslim – di dalam ilmu-ilmu Islam?
Berikut petikan wawancara eksklusif redaktur Jurnal Reflektika Anwar Nuris
dengan Direktur Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) yang juga
sekaligus sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
pada tanggal 18 Dzulhijjah 1425 H/29 Januari 2005 M
di kediamannya.
Apa yang melatar belakangi Bapak Kyai dalam membagi ilmu Pengetahuan ke dalam Ulum Tanziliyah dan ulum Kauniyah?
Sebenarnya saya tidak suka untuk membagi-bagi ilmu pengetahuan, karena pada hakekatnya semua ilmu itu satu, berasal dari yang Satu, direkayasa oleh yang Satu, harus dipelajari untuk yang satu dan akhirnya pasti akan kembali kepada yang satu, kalau toh harus ada pembagian itu sekedar untuk maksud identifikasi agar mudah diingat. Tapi sebaiknya jangan dalam bentuk pembagian atau pemilahan, yang lebih tepat dilakukan dalam bentuk pengelompokan.
Menurut saya, sebenarnya ilmu-ilmu Allah SWT bukan hanya 2 macam seperti tertulis dalam proposal, tapi bisa “dikelompokkan” menjadi 3 kelompok; yaitu Ulum Kauniyah, Ulum Tanziliyah dan Ulum Tathbiqiyah. Dasarnya apa? Saya meruju’ pada firman Allah tentang tugas-tugas Rasulullah saw yang tersimpul dalam 3 macam tugas ( Ali Imron, 154 dan Al- Jumu’ah, 2) yaitu tugas Tilawatil Ayat atau membacakan tanda-tanda keagungan Allah (Ulum Kauniyah), tugas Ta’limul Kitab wal-Hikmah atau mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits (Ulum Tanziliyah )serta tugas Tazkiyatun-Nas atau menyucikan manusia (Ulum Tathbiqiyah). Oleh karena tugas Rasulullah adalah membawa risalah / massage dari Allah kepada manusia, maka saya yakin bahwa ketiga tugas tersebut sangat erat hubungannya dengan ilmu-ilmu Allah SWT yang harus dikuasai oleh manusia sebagai Hamba dan KholifahNya

KeOtentikan al-Qur'an

disadur dari membumikan al-Qur'an, karya : Quraish Shihab

Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya) (QS 15:9). Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi saw. Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di atas, karena seperti yang ditulis oleh almarhum 'Abdul-Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan keotentikannya."1 Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.