Minggu, 10 Mei 2015
Ada Hikmah dalam Ketidaktahuan Kita?
Minggu, 04 Mei 2014
Jangan Takut untuk Mencoba! (seri Al-Qur'an)
Sabtu, 03 Mei 2014
Kiat-Kiat Menjaga Hafalan Al-Qur'an
Selasa, 29 April 2014
Mengapa Aku ingin Menjadi Penghafal al-Qur'an
Kamis, 16 Mei 2013
Negosiasi Identitas Santri Berhadapan dengan Realitas Kehidupan Mahasiswa dan Kampus
Santri secara bahasa adalah murid (siswa atau siswi) yang mengikuti pendidikan di Pondok Pesantren (Wikipedia). Menurut kamus besar bahasa Indonesia santri adalah oranag yang mendalami agama islam, orang yang bersungguh-sungguh dan orang yang sholeh. Namun, sementara pakar saling berbeda tentang pengertian dan makna santri. Ada yang menyebut, santri diambil dari bahasa ‘tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’, ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’.
Pendapat lainya meyakini bahwa kata santri berasal dari kata ‘Cantrik’ (bahasa sansekerta atau jawa), yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sedang versi yang lainya menganggap kata ‘santri’ sebagai gabungan antara kata ‘saint’ (manusia baik) dan kata ‘tra’ (suka menolong). Akan tetapi penulis mempunyai definisi berbeda tentang arti dari makna Santri tersebut. Santri adalah bahasa serapan dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu SUN dan THREE yang artinya tiga matahari. Matahari adalah titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan panas bumi disiang hari. seperti kita ketahui matahari adalah sumber energi tanpa batas, matahari pula sumber kehidupan bagi seluruh tumbuhan dan semuanya dilakukan secara ikhlas oleh matahari. namun maksud tiga matahari dalam kata SUNTHREE adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari di pesantren menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan islam serta dapat berbuat ihsan kepada sesama.
Pada perkembangannya, istilah ‘santri’ pun memiliki devariasi yang mempunyai banyak arti. Dari segi profesi, ada santri kultur, santri modern dan santri tradisional. Santri Profesi adalah mereka yang menempuh pendidikan atau setidaknya memiliki hubungan darah dengan pesantren. Sedangkan Santri Kultur adalah gelar santri yang disandangkan berdasarkan budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, bisa saja orang yang sudah mondok di pesantren tidak disebut santri, karena prilakunya buruk. Dan sebaliknya, orang yang tidak pernah mondok di pesantren bisa disebut santri karena prilakunya yang baik. Dari segi metode dan materi pendidikan, kata ‘santri’ pun dapat dibagi menjadi dua. Ada Santri Modern dan ada Santri Tradisional (layaknya juga ada pondok modern dan ada juga pondok tradisional). Sedang dari segi tempat belajarnya, ada istilah ‘santri kalong’ dan ‘santri tetap’. Santri kalong adalah orang yang berada di sekitar pesantren yang ingin menumpang belajar di pondok pada waktu-waktu tertentu.
Mendefinisikan santri yang seyogyanya, jika dilihat dari perbandingannya antara santri yang dulu, maupun antara santri yang tradisional dan yang modern, apapun perbandingannya namun yang terungkapkan adalah bahwa santri merupakan sosok yang memiliki ciri dan kelebihan yang khas, baik dari segi pakaiannya, dan tingkah lakunya. Dalam perjalanannya pun, baik santri dahulu maupun yang sekarang, ciri khas tersebut tetap tak terhapuskan. Ciri khas itu merupakan kelebihan postitive yang menjadikan santri berbeda dengan yang lainnya. Bahkan Spesifikasi positif dari kelebihan itu pun sangat terlihat dalam pemahamannya mengenai pengetahuan keagamaan, kecerdasan intelektual, dan yang paling terlihat adalah daya juang mereka dalam kehidupan.
Selain itu, pelaksanaan dari ilmu yang telah didapatkan di pondok itu tidak hanya dalam hubungan ubudiyah saja, justru di saat berada di lingkungan luar pondok itulah seorang santri mencoba untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu keagamaan tersebut dalam menyikapi keadaan yang terjadi di lingkungan mereka. Apalagi ketika seorang santri tersebut melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu ketika masuk ke perguruan tinggi dan menjadi seorang mahasiswa. Perkembangan zaman dan kehidupan mahasiswa pun menjadi sebuah pembelajaran baru yang memerlukan perencanaan strategis untuk menghadapinya, dengan pengolahan nilai-nilai keagamaan yang telah ditanamkan selama di pondok pesantren. Secara kasat mata, bisa dilihat budaya, semisal perayaan Hari Valentine, tahun baru, atau ulang tahun dengan cara-cara yang nyaris persis anak-anak kota. Dalam hal berpakaian, tak sedikit mahasantri (santri dengan kehidupan mahasiswa) latah ikut-ikutan gaya yang sedang tren dikalangan selebritas. Dalam hal makanan, menanak (baca: atana') dianggap "nggak gaul" dan merepotkan. Padahal, yang disebut terakhir juga termasuk aktivitas kependidikan dan pembelajaran kemandirian. Sehingga secara tidak sadar, Mahasantri kini dihinggapi budaya instan, konsumtif, dan hedonis. Instan lantaran terbiasa dengan "kemudahan", segalanya didapat dengan mudah dan tanpa melalui proses yang teliti. Konsumtif akibat pudarnya daya kritisisme mahasantri sekaligus lantaran dihadapkan pada dagangan produk kapitalis yang menggiurkan. Hedonis lantaran ada kecenderungan perilaku diarahkan untuk melulu menggali sebuah kesenangan semu, dan tentu saja ini akan berpengaruh pada pola pikir, paradigma kemudian perilaku Mahasantri.
Namun, hendaklah mencoba membuka wawasan yang lebih luas untuk menerima hal-hal baru, mencoba untuk menghilangkan pemikiran bahwa santri yang mungkin lebih dikenal dengan orang yang selalu manut (sami’na wa atha’na) dengan kyainya, karena dalam posisi sebagai mahasiswa, santri harus mencoba untuk mengesampingkan prinsip itu, karena manut tidak selalu identik dengan baik. Para pemimpin pun tidak selalu baik, tidak ada yang tidak terlepas dari sebuah kesalahan, entah itu karena kesengajaan maupun ke-alpa-an mereka. Dari sinilah seorang santri yang sudah berevolusi menjadi seorang mahasiswa mencoba untuk memfilter segala yang ada dan terjadi di lingkungan sekitar, mencoba untuk bersikap kritis, aktif dan progresif dalam menyikapi beragam permasalahan yang muncul.
Santri memilik peran yang sangat strategis, apalagi di era seperti sekarang ini. Banyak diversifikasi kemampuan yang dimiliki oleh setiap santri, dan menuntut santri tersebut untuk dapat mengembangkan kemampuannya diberbagai bidang, tidak hanya di dalam jalur pendidikan kegamaan, namun juga dijalur umum seperti dalam bidang kedokteran, teknik, pertanian, dll. Sehingga perlunya adanya pelayanan terhadap keberagaman tersebut dengan menyesuaikan dengan perannya masing-masing. Peran strategis tersebut terdiri dari scholar, inventor , dan creator. seperti disebutkan dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW : Khairunnas anfa’uhum linnas. Manusia yang baik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Untuk itulah santri sebaiknya memiliki pemahaman yang mendalam terhadap bidang yang ditekuninya selain pemahaman tentang keagamaan. Pengetahuan keagamaan seorang santri harusnya dapat disandingkan dengan pengetahuan yang berkembang dan maju. Tidak mudah memang, apalagi dengan perkembangan yang berubah, secara fleksibel memerlukan pemikiran yang lebih tinggi, tidak hanya terpaku dengan sebuah pemikiran saja. Dari pengetahuan yang mendalam itu santri harus punya suatu penemuan yang meski kecil namun tetap bermanfaat bagi manusia. Untuk menemukan hal tersebut, santri harus kreatif. Kreativitas inilah yang dapat mengindikasikan banyak santri yang muncul menjadi inventor.
Dari sini, sebagai santri yang diberi kesempatan untuk dapat menikmati bangku kuliah terutama santri yang berkesempatan dengan bantuan beasiswa dari Kementrian Agama RI, hendaklah mencoba untuk merefleksikan diri dalam mewujudkan penafsiran tentang makna “ mahasantri “ yang telah disandang, dijelmakan dengan sikap dan tindakan kita dalam kehidupan sebagai seorang pemikir yang memperdalam dan mengaplikasikan ilmu agama untuk mengetahui hakikatnya yakni untuk mengabdi dan menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawi, serta bertindak dan berperilaku agamis, normatif, serta berfikir kritis dengan memadukan nilai keislaman dan keilmuan, sehingga kita menjadi mahasiswa yang punya “ilmu yang amaliah, dan amal yang ilmiah”.
Jumat, 10 Mei 2013
Hafidzul Qur’an: adalah nikmat yang tiada terkira
Nikmat adalah amanah yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapanNya, nikmat adalah sesuatu yang tersandar dalam diri kita untuk kita tunaikan sesuai tempatnya. Diri kita adalah putih, hati kita begitu bening, maka saat nikmat itu tidak tertunaikan, maka serpihan debu menghalangi pantulan cahayanya, pantulan kebaikan tak kan memancar dari hati yang tertutup oleh kabut kesombongan dan kepongahan. Mungkin kita beranggapan, ahh… memang diri ini pantas untuk mendapatkan nikmat ini, karena saya memang pantas. Saya pantas mendapatkan alquran, karena saya cerdas. Saya pantas kaya, karena saya adalah pekerja handal. Sekali lagi tidak saudaraku… sungguh ini karena rahman dan rahimNya pada kita. Ummat yang selalu ingkar dan bermaksiat padaNya! -semoga Allah menjaga kita dari hal-hal yang menjauhkan kita padaNya-
Alquran membawa syafaat bagi ahlinya, maka jangan pernah ingkar dan berpaling darinya. Karena disamping alquran menjadi hujjah bagi kita, tapi juga bisa menjadi hujatan atas kita. Saya teringat dengan pesan almarhum kyai Idris jauhari (allahummaghfirlahu), pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, “Anakku… kamu sudah hafal Kaamilul Quran?” saya jawab singkat, Alhamdulillah sudah, Pak Kyai, “Bagaimana dengan pendidikanmu?”, Alhamdulillah sudah menyelesaikan s1 pak kyai, “ingat nak… s1 itu hanya formal, dan pendidikan formal itu hanya untuk wet ma gewet (sok-sok gawat-madura-) tok!, alquran-mu lah yang paling berharga, maka saat alquran pergi darimu, maka sungguh telah lepas selimut kehormatan darimu! Dijaga anakku…”.
Untuk saudara-saudaraku yang sedang diguyur kenikmatan dan keberkahan.
Untuk rekan-rekan yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi…
Untuk adik-adikku yang sebentar lagi akan diwisuda alqurannya…
Jika kita menghidupkan alquran, maka sungguh alquran akan menghidupkan kita, dan ingat! Jangan mencari penghidupan dari alquran, tapi hiduplah dengan menghidupi alquran. Semoga Allah menganugerahkan keberkahan umur, rizki yang halal, dan ilmu yang bermanfaat. Amien…
Sabtu, 13 April 2013
Keberpasangan
Dengan keberpasangan itu, lahirlah kerjasaman dan dengan kerjasama, hidup bersinambung lagi harmonis. Masing-masing secara berdiri sendiri memiliki keistimewaan tetapi juga kekurangan. Dengan keberpasangan, tercipta kesempurnaan dan menyatu keistimewaan itu.
Bunga-bunga yang mekar dengan indahnya, bertujuan antara lain merayu burung dan lebah agar mengantar benihnya ke kembang lain untuk dibuahi. Bukan hanya binatang dan tumbuh-tumbuhan, bahkan atom pun (yang negative dan positif) electron dan proton bertemu untuk saling tarik menarik demi memelihara eksestensinya. Demikian naluri makhluk, yang dianugerahkan Allah kepadanya. Masing-masing memiliki pasangan dan berupaya bertemu dengan pasangannya. Agaknya tidak ada satu naluri yang lebih dalam dan kuat dorongannya melebihi naluri dorongan pertemuan dua lawan jenis, pria dan wanita, jantan dan betina, positif dan negative. Itulah ciptaan dan pengaturan Allah.
Manusia dalam keberpasangannya berbeda dengan binatang. Pada umumnya ada waktu-waktu tertentu bagi binatang untuk melakukan hubungan seks. Sekian banyak binatang tidak melakukannya setelah betinanya mengandung, berbeda dengan manusia. Di sisi lain, kecenderungan seksual umumnya binatang hanya muncul pada musim bunga, tidak setiap waktu. Karena itu, “kita mendzalimi binatang” ketika memaki seseorang yang mengumbar nafsunya tanpa batas dengan menyatakan “nafsunya seperti binatang”, sebab hakikatnya nafsu manusia apalagi yang durhaka melebihi nafsu binatang bahkan tak mengenal batas.
Keberpasangan adalah aksi dari satu pihak yang disambut dengan reaksi penerimaan oleh pihak lain, satu mempengaruhi dan yang lain dipengaruhi. Atas dasar inilah law of sex berjalan, dan atas dasar itu pula alam raya diatur Allah.
Selanjutnya jika kita mengakui bahwa aksi dan reaksi atau pengaruh mempengaruhi merupakan kodrat segala sesuatu. Maka, harus diakui pula bahwa tiada keistimewaan bagi yang melakukan alsi dari segi fungsinya sebagai pelaku, dan tidak juga ada kekurangan bagi yang menerima reaksinya. Walaupun harus diakui bahwa yang melakukan aksi lebih kuat dari yang menerima. Seandainya jarum tidak lebih keras dari kain atau pacul tidak lebih kuat dari tanah, maka tidak aka ada jahit menjahit, tidak juga ada hasil pertanian. Karena itu, jantan atau lelaki, selalu mengesankan kekuatan dan penguasaan, sementara betina atau perempuan mengesankan kelemahlembutan dan penerimaan. Namun demikian, sekali lagi kekuatan atau kelemahlembutan disini, sama sekali tidak menunjukkan superioritas satu pihak atas pihak yang lain, tetapi masing-masing memiliki keistimewaannya dan masiing-masing membutuhkan yang lain guna tercapainya tujuan bersama.
Bagi manusia, mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Ketersendirian (dan lebih hebat lagi keterasingan) sungguh dapat menghantui manusia karena manusia pada dasarnya adalah makhluk social, makhluk yang membawa sifat dasar ketergantunga.
Memang sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia menikah, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa. Tetapi harus diingat bahwa keberpasangan manusia bukan hanya didorong oleh desakan naluri seksual, tetapi lebih dari itu, ia adalah dorongan kebutuhan jiwanya untuk meraih ketenangan. Ketenangan itu yang didambakan oleh suami khususnya saat ia keluar rumah dan anak istrinya, dan dibutuhkan pula oleh istri lebih-lebih ketika suami meninggalkannya keluar rumah. Ketenangan serupa juga dibutuhkan anak-anak bukan saja saat berada ditengah keluarga, tetapi sepanjang masa. Entah apa yang terjadi dalam detik-detik jantung seorang perempuan dan lelaki yang berpasangan secara sah, sehingga bersedia menurut istilah al-Qur’an dalam surat an-Nisa: 21 (afdha ba’dhukum ila ba’dh). wallahu a’lam bisshowab..
Selasa, 09 April 2013
Kebetulan-Ku
Percaya dengan kata “kebetulan”?. Kebetulan saya masuk pondok, lalu hafidh (Hafal) alquran. Kebetulan saya bekerja disini dan karir melambung tinggi sehingga saya sukses. Kebetulan saya bertemu dengannya, lalu saya suka padanya. Kebetulan saya lewat sini, lalu terjatuh, atau apapun bentuk kebetulan itu baik yang berujung baik atau buruk. Toh, bumi dan isinya diciptakan-Nya secara “kebetulan”? iya kah?.Tinta ketetapannya telah mengerik, coretan pena takdir telah ditorehkan rapi dalam catatan panjang dilauh mahfudz sana. Rasanya tidak ada kata “kebetulan” dalam kamus-Nya. “Oh, maaf.. saya kebetulan saja menulis makalah ini”, rasanya aneh dan kurang logis kayaknya, betul??. Tidak ada apapun yang olehNya diciptakan atau terjadi secara kebetulan, karena “kebetulan” itu sendiri adalah proses, cara atau pembelajaran dari Tuhan untuk mendidik kita, dan bukankah “kebetulan” itu sendiri lahir dari suatu pilihan?. kita masuk pondok, karena kita memilih entah itu dalam keadaan terpaksa atau tidak. Kita bekerja dan sukses adalah karena kita memilih untuk berusaha. Rasa suka padanya, dan mengapa suka itu ada adalah karena kita memilihnya, yang kemudian kita sebut dengan “kebetulan”.
Pohon Terlarang
Semua ulama sepakat, bahwa manusia pertama adalah adam, yang
sempat tinggal beberapa waktu di Surga hingga akhirnya Allah menakdirkanya
untuk tinggal di bumi bersama ibu hawa. Adalah sebuah ketentuanNya kepada adam
untuk makan dan minum atas kehendaknya, kecuali satu pohon terlarang. Jangankan
untuk memakannya, mendekatinya saja tidak
boleh, sebagaimana firmannya surat al-baqarah, “wahai adam...
tinggallah kamu dan istrimu (hawa) di surga, dan makanlah apa-apa yang
didalamnya sepuasmu. Akan tetapi jangan kamu dekati pohon ini, sehingga kamu
menjadi orang-orang yang dholim”. Saking pentingnya, Allah mengulang
Ayat ini terulang beberapa kali di alquran, di juz 8 surat al-An’am, juz 14
surat al-Hijr, juz 23 di surat Shod, agar kita selalu mengambil pelajaran dari
peristiwa turunnya adam dari syurga. Pertanyaannya adalah, apakah pohon yang
dimaksud itu?? Sebagian pakar mengkhususkan pohon ini, ada yang berpendapat
pohon yang dimaksud adalah pohon Tin, tapi pendapat ini sangat lemah, terlepas
dari itu, rasanya tidak ada guna kita meraba-raba apa lagi menentukan jenis pohon
apa yang dimaksud ayat ini. Andai itu penting, tentu Allah akan menyebutnya di alquran
atau melalui lisan nabi SAW dalam hadits-nya. Senin, 14 Mei 2012
Menghafal Al-Quran adalah Perjuangan Penuh Kehormatan
Sabtu, 12 Mei 2012
Catatan spontanitas tentang Cinta: Perempuan dan kodratnya sebagai Ibu
orang yang selalu beliau bangga-banggakan.. orang yang selalu beliau nina bobokkan saat kita masih kecil..memperdengarkan cerita indah kepahlawanan sultan shalahudin al-ayyubi, khalid bin walid, umar bin khattab dan rasulullah saw.
lalu bagaimana dengan kita...
orang yang selalu beliau ratapi ditengah malamnya..
bermunajat memohon ampunan dan kelanggengan dalam segala hal..
orang yang selalu beliau kasihi..
orang yang selalu beliau katakann "inilah malaikat kecil titipan allah padaku,,"
dialah kunci surgaku..
dialah penjaminku.."
lalu bagaimana dengan kita...
kita disibukkan dengan kesibukan duniawi. mencari uang, mencari kehidupan, mencari kesejahteraan.
apakah semua itu benar-benar akan menebus satu guratan kesedihan sang ibu. saya teringat suatu hadits, "ketika datang seorang anak melapor kepada rasulullah, melaporkan bahwa orang tuanya meminta harta yang telah ia kumpulkan dari hasil keringatnya, dan apa jawaban rasulullah, "dirimu dan hartamu adalah milik orang tua mu, seluruh hartamu, tidak akan mampu menggantikan satu tangisan ibumu, atao bahkan satu senyuman ketika membuaimu".
tidak saudaraku..sekali lagi tidak.. dunia akan membutakan kita, melenakan dan membuai kita dalam kesenangan sesaat, ibu kita, tidak butuh itu..
lalu bagaimana dengan kita saudaraku..
kita disibukkan dengan diri pribadi kita. "alahhh..saya sudah besar, saya sudah bekerja,,hidupku adalah hidupku toh aku juga masih bisa membantu meringankan beban orang tua dg membiayai adiku atau bahkan mengirim orang tua.". kesombongan financial, emosi dan ambisi. pufh..kita terlalu disibukkan dengan semua keinginan kita. saya rasa semua sepakat bahwa kita meningnkan pasangan yang ideal, yang mengerti kita, yang sempurna dipandang kita. namun sayang justru, keingnan seperti itu yang banyak menyibukkan dan menyita emosi kita. sejenak kembali, berapa waktu yang kita sediakan untuk ibu kita, bukankah waktu yang telah lewat tidak akan kembali, masihkah mungkin besok, lusa, atau minggu depan, kita masih melihat guratan senyum diujung pintu menunggu kedatangan kita??"
kita disibukkan oleh diri kita..
kita mengejar cinta..cinta yang bagaimana??
cinta yang seperti apa?? mari kita lihat cinta sang Ibu?pernahkah ada keluh kesah keluar dari bibirnya yang dialamatkan untuk kita. pernah kah teruntai kata. "nak..sy merawat kamu sejak kecil, biaya perawatan memandika, Rp. 2000, menyuapi, 1000. menidurkan, mengganti popok dan lain-lain sekian ribu..pernahkah????.
cinta yang bagaimana, yang kita kejar???
saya menyayangimu setulus hati, maka kamu harus menyayangiku juga setulus hati. karena saya tidak selingkuh, maka kamu jangan selingkuh. atao mungkin, mas terserah wanita yang mana yang kamu pilih hati saya akan selalu menunggu..itu kah?. bagaimana dengan cinta ibu kita, pernahkah kalian "nak. karena saya sudah mencintaimu dan merawarmu sejak kecil maka kamu sekarang gantian yang harus menjagaku..!. CINTA YANG BALAS DENDAM" tidak saudaraku..sekali kali tidak. cintanya tidak begitu..lalu mengapa kita disibukkan dengan cinta semu yang membawa kita pada ksedihan berkepanjangan, harapan yang menggantung atau apalah.. mengapa sesosok manusia, seonggok daging itu yang kita gantungkan harapan. mengapa harus laki-laki itu yagn kita kejar cintanya..mengapa wanita itu yang kita harapkan menjaga rumah dan hati kita? dy yg belum halal bagi kita!! belum halal...
cinta memang sangat indah, penuh warna dan tidak berwarna jingga saja..
cinta mencairkan batu yang keras..
cinta melembutkan lelaki yang kasar sekalipun..
dan cinta membuat dunia ini selalu ramai bercerita..
allah menganugerahkan kita cinta, sebagaiaman allah menganugerahkan cinta ibu untuk kita anak-anaknya..
cinta adalah anugerah..
jangan nodai cinta itu dengan perbuatan kita yang tak pantas.
mari kita jaga agar cinta itu bersemayam indah, terpupuk dengan baik sehingga menumbuhkan pohon-pohon ibadah yang mendekatkan kita pada san maha Cinta, menumbuhkan bibit kebaikan untuk kita, ibu kita dan keluarga kita.
untuk saudaraku yang terus berjuang dengan membawa panji ibu, abah dan keluarganya..
ubahlah duniamu dengan Cinta-Nya. resapi cinta ibu dan abah kita.. renungi cinta kepada orang yang peduli pada kita.
semoga cinta kita membawa orang-orang yang kita cintai ke surgaNya penuh cinta. yang tidak ada keresahan, kesedihan, dan taman orang-orang pilihannya yang penuh suka cita.
dari hati penuh cinta, saudara mu..alfaqir ila rabbih...
- suatu pagi di kompleks asrama tahfidh al-amien prenduan, 24 Desember 2011
Kamis, 15 Desember 2011
In Memorial: Great Teacher, KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA
Profil:KH. Moh. Tidjani Djauhari MA lahir di Sumenep, Madura pada 24 Dzulqa’dah 1365 H/23 Oktober 1945 M. Alumni I Gontor (1964) ini menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Fakultas Syari’ah wa Dirasat al-Islamiyah pada 1969, dan lulus pendidikan S2 dengan yudisium Cumlaude di Universitas Malik Abdul ‘Aziz Makkah pada 1973 dengan tesis: “Tahqîq Kitâb Fadhâ`il al-Qur`ân wa Ma’âlimuhu wa Âdâbuhu li al-Imâm Abû ‘Ubaid al-Qâsim Ibnu as-Sallâm al-Harawi al-Baghdâdî”. Hingga akhir hayatnya, beliau masih terdaftar sebagai kandidat Doktor bidang Ilmu Tafsir di Universitas Al-Azhar Mesir. Selama masa hidupnya, penulis telah dipercaya memegang beberapa jabatan penting internasional di Rabithah ‘Alam al-Islami (Muslim World League) dari kurun 1974-1988. Jabatan yang sempat dipercayakan antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bidang Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), serta Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran Menyimpang (1983-1988). Sekembalinya ke tanah air, beberapa jabatan nasional juga telah beliau pegang. Antara lain: Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura (1989-akhir hayatnya), Koordinator Pusat Badan Silaturrahmi Ulama Madura (BASSRA) (1992), Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jawa Timur (1995-2000), Pendiri Badan Silaturrahim Pondok Pesantren (BSPP) (1998),
Kamis, 13 Oktober 2011
Catatan : Tentang Saudaraku, sahabatku dan teman seperjuanganku
Senin, 03 Oktober 2011
Klasifikasi dan Hierarki Ilmu: Posisi Logika dalam al-Ulum al-Kauniyah dan al-Ulum at-Tanziliyah
KeOtentikan al-Qur'an
Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya) (QS 15:9). Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi saw. Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di atas, karena seperti yang ditulis oleh almarhum 'Abdul-Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan keotentikannya."1 Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.
Minggu, 01 Mei 2011
Tentang Perbedaan dan Absolutisitas Pemahaman
Ajaran agama diterima oleh penganutnya secara estafet, turun temurun dan terus begitu, yang jika kita runtut kebelakang, akan ditemukan sumber yaitu Tuhan yang diyakini oleh pemeluk agama tersebut. Secara pasati, setelah pembaca agama yang menjadi utusan tidak lagi berada ditengah-tengah umatnya, maka pastilah petunjuk-petunjuk yang dibawa mengalami perubahan interpretasi, bahkan memerlukan petunjuk-petunjuk praktis yang tadinya belum dikenal pada masa utusan tersebut ketika berada ditengah masyarakat. Apabila penganut agama tersebut meyakini interprets tersebt tunggal. Maka interpretasi tersebut menjadi absalut dikalangan mereka. Sebaliknya, apabila mengandung berbagai kemungkinan makna, maka ia menjadi relative.
Senin, 17 Agustus 2009
Pagi dengan Surat Al-Fajr
Alhamdulillah,,pagi ini gak sedingin biasanya, pagi yang begitu semarak. Dijalan, ku lihat burung-burung berkejaran bercuit ria, seolah ingin mengatakan pagi ini begitu indah, sayang jika dilewatkan dengan memeluk guling dan bersajadahkan kasur. Pada hari ini pula, Indonesia berulang tahun ke-64, ternyata negaraku ini sudah cukup tua, bahkan jauh lebih tua dari pada negara tetangga Malaysia dan singapura, tapi napa y kO indonesia gak maju-maju? apa karena mayoritas penduduknya seperti saya, yang “hanya” duduk berpikir memikirkan nasib serta umur yang terus berkurang, sementara kaki dan tanganku duduk bersila. Atau mungkin, karena pemerintahan kita sudah seperti kakek buyutku yang termakan usia untuk kembali memikul “landuk” dan clurit ke sawah. Alah..bukankah orang-orang pintar disekitar kita udah banyak, kenapa saya harus memikirkanya???.
Hijab Materi dan Rohani
luar rumah dengan berdandan. Yakni, terdapat hijab materi yang berupa penutupan tubuh, dan juga hijab rohani dimana sosok wanita sebagai manusia di tengah-tengah masyarakat, tidak berusaha tampil dengan dandanan yang menarik perhatian. Demikianlah bisa saja hijab itu muncul dalam bentuk pembicaraan, "Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, " (QS. al-Ahzab: 32) dan dalam bentuk perilaku-perilaku yang lain.Minggu, 16 Agustus 2009
Kajian Grafik Pengendali dan Analisis Kemampuan Proses Statistik Berbasis Distribusi Weibull (Studi Kasus pada Data Livabilitas Semen Sapi BBIB Singo
Yaya Qalbiyah Harisanti &Hendro Permadi
Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
ABSTRAK
Kualitas didefinisikan sebagai konsistensi peningkatan atau perbaikan dan penurunan variasi karakteristik suatu produk (barang dan jasa) yang dihasilkan, agar memenuhi kebutuhan yang telah dispesifikasikan guna meningkatkan kepuasan konsumen. Untuk mengetahui apakah suatu produk sudah sesuai atau belum maka perlu dilakukan pengendalian kualitas. Pengendalian kualitas adalah suatu metodologi pengumpulan dan analisis data kualitas, serta penentuan dan interpretasi pengukuran-pengukuran yang menjelaskan tentang proses dalam suatu industri, untuk meningkatkan kualitas guna memenuhi kebutuhan konsumen.
Pengendalian kualitas dapat dilakukan dengan analisis grafik pengendali dan analisis kemampuan proses statistik. Sebelum melakukan pengendalian kualitas harus diketahui distribusi data. Apabila asumsi normal tidak terpenuhi salah satu pendekatan distribusi yang dapat dilakukan dengan pendekatan distribusi Weibull.
Data yang digunakan dalam makalah ini adalah data livabilitas semen sapi. Pendekatan dengan distribusi Weibull menghasilkan parameter skala , dan parameter bentuk . Hasil batas-batas grafikpengendali distribusi Weibull yaitu UCL= 86,8781; LCL=50,1971; Center Line= 74,34 dengan membangun grafik pengendali berbasis distribusi Weibull diperoleh data livabilitas terkendali secara statistik. Hasil analisis kemampuan proses berbasis distribusi Weibull diperoleh nilai Pp=1,67204 menunjukkan bahwa proses berjalan dengan sangat baik; dan nilai Ppk=1,61594 menunjukkan bahwa tingkat presisi dan akurasi proses sangat baik serta variasi proses semuanya berada dalam batas-batas yang telah ditentukan perusahaan. Hasil Expected Overall Performance, PPM USL= 0, hal ini berarti bahwa apabila produksi 1.000.000 produk maka 0 produk berada di luar batas spesifikasi atas perusahaan. PPM Total= 53,9759 (dari 53,9759 dibulatkan menjadi 54), hal ini berarti bahwa jumlah produk yang berada di luar batas spesifikasi atas dan bawah perusahaan adalah 54 produk dari 1.000.000 produk yang dihasilkan.
Kata Kunci: Distribusi Weibull, Grafik Pengendali Distribusi Weibull, Analisis Kemampuan Proses Distribusi Weibull.
Berpikir Kritis tentang Eksistensi Tuhan(F1)
Prolog: Kisah Sang Pencari Tuhan
Pernahkah Anda ditanya, “Benarkah tuhan itu ada?” Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu, Anda terkejut. Sebab pertanyaan itu langsung mengusik sesuatu yang sudah baku dalam aqidah Anda, yaitu keimanan pada tuhan.
Belum hilang rasa keterkejutan itu, pertanyaan susulan yang tak kalah hebohnya biasanya juga memberondong, “Jika tuhan ada, di manakah dia?”, “Sedang apa dia?”
Mendapat pertanyaan-pertanyaan yang menggugat akidah itu, segera terbangun tuduhan dalam benak Anda bahwa ajaran atheis sedang merasuki pikiran sang penanya. Bukankah atheis mengajarkan pandangan dunia tanpa tuhan?
Tapi, tuduhan tersbut tidak menolong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang terbesit kemudian justru sebuah keraguan: jangan-jangan memang tuhan tidak ada.
Memang, sudah lama kita meyakini ajaran iman pada tuhan. Tapi jujur, hal itu kita dapatkan sebagai semacam sebuah doktrin. Dan kini, banyak mendapati batunya, betapa kita tidak bisa membela ketika mendapati tuhan digugat. Akal dan pikiran kita beku. Buyar seluruh doktrin yang kita warisi. Dan guncanglah iman kita.
Mencari Hakekat Kebenaran
Kisah di atas bisa saja terjadi pada kita. Sebuah sosok dengan iman yang keropos. Berpenampilan seolah paling kuat imannya, namun tidak memiliki akar yang menghujam ke dalam. Jadilah kita manusia yang mudah tergerus oleh gelombang pemikiran. Iman hanyalah pemanis kata; bukan sebuah keyakinan dengan pijakan ilmu. Maka, bagaimana kita akan berbicara tentang kehidupan keberagamaan, jika landasannya adalah iman yang keropos?
Tentu saja, “Kisah Sang Pencari Tuhan” tidak boleh terputus pada episode keguncangan iman. Harus ada solusi tentang proses pencarian tuhan itu. Maka, kami mencoba menawarkan sebuah pelatihan yang insya Allah akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tuhan di atas, sekaligus membangun sikap keberagamaan yang holistic.






