Kata mereka...

Keindahan adalah menatap keabadian diri sendiri didalam cermin_ Kahlil Ghibran.

Kata mereka...

Keraguan adalah rasa sakit karena kesepian untuk mengetahui bahwa iman adalah saudara kembarnya.

Kata mereka...

Iman adalah sebuah oasis di jantung yang tidak akan pernah dijangkau oleh segerombolan pikiran.

Kata mereka...

Iman adalah pengetahuan dalam hati, di luar jangkauan bukti.

Kata mereka...

Cinta tidak memiliki dan tidak akan dimiliki, karena cinta telah cukup bagi cinta itu sendiri.

Minggu, 10 Mei 2015

Ada Hikmah dalam Ketidaktahuan Kita?

Saat pagi masih terselimuti embun, matahati belum juga meninggi. Gemuruh suara para calon huffadz mengaji dan memurajaah hafalannya. Seorang santri datang dan kepada gurunya, dengan penuh harap dan wajah yang tawadhu, santri tersebut berkata “ustadz.. mungkin tidak? Saya bisa ikut wisuda 30 juz tahun ini?”. Sambil tersenyum guru tersebut menjawab, “Nak… ingat tidak, bahwa kurang lebih 10 bulan yang lalu kamu bertanya hal yang relative sama dengan pertanyaanmu barusan, “Ustadz… mungkin tidak, saya khatam tahun ini?”, padahal saat itu kamu baru menyelesaikan juz 13, selama rentang waktu 3 tahun perjalananmu di Pondok ini, ingatkah?.

Minggu, 04 Mei 2014

Jangan Takut untuk Mencoba! (seri Al-Qur'an)


Rasulullah bersabda, :
تعاهدوا القران فوالذى نفس محمّدبيده لهو أشدّ تفلّتا من الإبل في عقلها (رواه مسلم)
Jagalah selalu hafalan Al-Qur'an. Demi Dzat yang jiwaku ada pada rangkulan-Nya, sesungguhnya hafalan Al-QAur'an itu lebih cepat katimbang seekor unta pada lambatannya (HR. Muslim)

Bersyukurlah bagi mereka yang Allah anugerahkan al-Qur’an didadanya, karena mereka adalah hamba-hamba terpilih. Berbahagialah mereka yang setiap waktu, bibirnya selalu basah melantunkan ayat-ayatNya karena janji Allah adalah pasti. Bertakwalah, bagi mereka yang diberi al-Qur’an kemudian syaitan melupakannya sementara dia terus berusaha, dan bertaubatlah bagi mereka yang diberi ayat-ayat al-Qur’an kemudian melupakannya. “dan barang siapa yang berpaling dari dzikir kepadaku (alQur’anku, peringatanku), maka baginya kehidupan yang sempit. Dan kami kumpulkan mereka pada hari kiamat (kelak) dalam keadaan buta. Dia berkata: “wahai tuhanku, mengapa engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, sementara dulu saya mampu melihat?”. Dia (Allah) berfirman: “Demikianlah, dahuku telah datang kepadamu ayat-ayat kami, dan kamu melupakannya”. Jadi begitulah hari ini (pula) kamu dilupakan. Naudzubillahi mindzalik…

Sabtu, 03 Mei 2014

Kiat-Kiat Menjaga Hafalan Al-Qur'an


ditulis oleh KH. Abdullah A. Zaini, Lc.Q, M.Th.I, melalui restu beliau tulisan ini kami update untuk kemudian dipublikasi, untuk menjadi maklum dan menjadi tambahan ilmu untuk kemudian diamalkan, baik bagi yang huffadh, atau bagi mereka yang meniti jalan haafidhul qur'an. semoga bermanfaat. 

Memang menjaga hafalan Al-Qur'an lebih berat ketimbang menghafalnya dari nol, namun jangan berkecil hati bahwa bila niat kita baik, ikhlas karena Allah, insya Allah Dia akan membimbing kita dalam menghafal dan menjaga kitab suciNya. kalau Allah SWT ridha kepada kita, maka kemudahan-kemudahan  yang akan kita dapati.
1.Pengaturan waktu
Pandai mengatur waktu akan dapat membantu seorang penghafal Al-Qur’an dalam memelihara hafalannya. Mengatur waktu untuk mengulang-ulang hafalan yang senantiasa terus berkelanjutan, harus terus dilakukan oleh seorang penghafal Al-Qur’an. Biasakan jangan melewatkan waktu tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Rasulullah SAW telah memperingatkan, bahwa hafalan Al-Qur’an akan lebih cepat hilang  dan lepas bila dibandingkan dengan seekor onta yang terikat kuat apa bila dia tidak selalu mengulang-ulang hafalannya tersebut.
تعاهدواالقرآن فوالذى نفس محمد بيده لهو أشد تفلتامن الابل فى عقلها (متفق عليه عن أبي موسى)
 “ Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor onta dari ikatannya” (H.R. Bukhari) 

Selasa, 29 April 2014

Mengapa Aku ingin Menjadi Penghafal al-Qur'an

Bisa membaca al-Qur'an itu keutamaan. Bisa menghafal Al-Qur'an adalah lebih utama. Bisa memahami Al-Qur'an itu adalah kewajiban. Paham ditambah hafal itu jauh lebih afdhal, betul!?? Mengamalkan nilai-nilai al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari itu adalah tuntutan. Namun, mengamalkan karena termotivasi karena hafalan adalah lebih aman setiap saat.
Setidaknya, itu yang harus kita renungkan bersama-sama sebagai seorang Muslim sejati. Ya, menghafal Al-Qur'an merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan setiap Muslim. Penerapan ajaran Islam secara baik tidak akan bisa dilakukan tanpa interaksi yang kuat dengan Al-Qur'an. Generasi sahabat dan salaf shaleh dahulu telah membuktikan hal itu.
Berikut beberapa alasan dari sekian banyak alasan mengapa kita harus menghafal Al-Qur’an : 
1. Menghafal adalah landasan awal ketika Rasulullah menerima Al-Qur'an dari malaikat Jibril alaihissalam.
Allah berfirman dalam al-Qur'an:
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
Artinya: "Bahkan Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang menjelaskan (terdapat) di dalam dada-dada orang-orang yang diberikan ilmu..."(QS al-Al-Ankabut: 49)”.
Sungguh, betapa indahnya ayat ini; Allah menjelaskan tentang kedahsyatan aktifitas dada orang-orang yang menghafal ayat-ayat Allah SWT. Mereka inilah orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah SWT. Dengan kata lain, ayat di atas menjelaskan bahwa Dia akan memilih dari sekian hamba-hamba-Nya di muka bumi untuk kemudian dijadikan sebagai wadah bagi firman-firman-Nya. Sungguh ini merupakan keutamaan yang besar. Maukah kita termasuk sebagai manusia pilihan tersebut?. 

Kamis, 16 Mei 2013

Negosiasi Identitas Santri Berhadapan dengan Realitas Kehidupan Mahasiswa dan Kampus

Ilmu pengetahuan terus berkembang, semakin hari tampak semakin tua dan menemukan kemaatangannya, beberapa pendapat-pendapat ilmuwan-ilmuan terdahulu yang kemudian terbukti atau bahkan terpatahkan sehingga memunculkan wajah baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan tentu saja ini berdampak pada teknologi, kalau dulu sebagian masyarakat kita dikenal buta huruf, karena tidak bisa membaca dan menulis, rasanya ketidak mampuan mengikuti dan menggunakan teknologi juga bisa dimasukkan dalam kategori buta huruf itu tadi. Sementara itu, bacaan, tulisan dan teknologi adalah jendela ilmu pengetahuan yang akan mengantarkan sang empu-nya untuk menjadi tahu atau menjadi salah satu hambaNya, yang oleh Allah sebut sebagai ahladz dzikr.
DSC02931Maha besar Allah yang berfirman dalam al-Qur’an, “maka bertanyalah kalian (semua) kepada ahladz dzikri, jika kalian tidak mengetahui”. Ilmu tanpa agama buta,dan agama tanpa ilmu adalah bencana, kiranya dua istilah inilah yang menjadikan penting keterkaitan antara agama dan ilmu pengetahuan, walau sebenarnya agama Islam selalu sejalan dengan ilmu pengetahuan. Keadaan psikologis seorang santri yang baru keluar dari pondok pesantren terkadang seperti sebuah burung yang baru keluar dari sarangnya, mereka masih kebingungan oleh keadaan yang serba bebas. Rutinitas untuk melaksanakan shalat malam, shalat berjama’ah, mengaji tiap selesai shalat, dan sebagainya. Belum lagi saat dihadapkan dengan dekadensi moral para santri yang hanyut mengikuti mode dan kehidupan mahasiswa yang masih baru namun terkesan konsumtif dan hedonis. Agaknya cukup susah terlaksana ketika berada di lingkungan baru. Padahal sebenarnya dalam keadaan itulah sebisa mungkin mencoba ber-istiqomah dalam rutinitas dan segala yang diajarkan di pondok agar senantiasa diaplikasikan dalam hidup.
Santri secara bahasa adalah murid (siswa atau siswi) yang mengikuti pendidikan di Pondok Pesantren (Wikipedia). Menurut kamus besar bahasa Indonesia santri adalah oranag yang mendalami agama islam, orang yang bersungguh-sungguh dan orang yang sholeh. Namun, sementara pakar saling berbeda tentang pengertian dan makna santri. Ada yang menyebut, santri diambil dari bahasa ‘tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’, ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’.
Pendapat lainya meyakini bahwa kata santri berasal dari kata ‘Cantrik’ (bahasa sansekerta atau jawa), yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sedang versi yang lainya menganggap kata ‘santri’ sebagai gabungan antara kata ‘saint’ (manusia baik) dan kata ‘tra’ (suka menolong). Akan tetapi penulis mempunyai definisi berbeda tentang arti dari makna Santri tersebut. Santri adalah bahasa serapan dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu SUN dan THREE yang artinya tiga  matahari. Matahari adalah titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan panas bumi disiang hari. seperti kita ketahui matahari adalah sumber energi tanpa batas, matahari pula sumber kehidupan bagi seluruh tumbuhan dan semuanya dilakukan secara ikhlas oleh matahari. namun maksud tiga matahari dalam kata SUNTHREE adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari di pesantren menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan islam serta dapat berbuat ihsan kepada sesama.
Pada perkembangannya, istilah ‘santri’ pun memiliki devariasi yang mempunyai banyak arti. Dari segi profesi, ada santri kultur, santri modern dan santri tradisional. Santri Profesi adalah mereka yang menempuh pendidikan atau setidaknya memiliki hubungan darah dengan pesantren. Sedangkan Santri Kultur adalah gelar santri yang disandangkan berdasarkan budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, bisa saja orang yang sudah mondok di pesantren tidak disebut santri, karena prilakunya buruk. Dan sebaliknya, orang yang tidak pernah mondok di pesantren bisa disebut santri karena prilakunya yang baik. Dari segi metode dan materi pendidikan, kata ‘santri’ pun dapat dibagi menjadi dua. Ada Santri Modern dan ada Santri Tradisional (layaknya juga ada pondok modern dan ada juga pondok tradisional). Sedang dari segi tempat belajarnya, ada istilah ‘santri kalong’ dan ‘santri tetap’. Santri kalong adalah orang yang berada di sekitar pesantren yang ingin menumpang belajar di pondok pada waktu-waktu tertentu.
Mendefinisikan santri yang seyogyanya, jika dilihat dari perbandingannya antara santri yang dulu, maupun antara santri yang tradisional dan yang modern, apapun perbandingannya namun yang terungkapkan adalah  bahwa santri merupakan sosok yang memiliki ciri dan kelebihan yang khas, baik dari segi pakaiannya, dan tingkah lakunya. Dalam perjalanannya pun, baik santri dahulu maupun yang sekarang, ciri khas tersebut tetap tak terhapuskan. Ciri khas itu merupakan kelebihan postitive yang menjadikan santri berbeda dengan yang lainnya. Bahkan Spesifikasi positif dari kelebihan itu pun sangat terlihat dalam pemahamannya mengenai pengetahuan keagamaan, kecerdasan intelektual, dan yang paling terlihat adalah daya juang mereka dalam kehidupan.
Selain itu, pelaksanaan dari ilmu yang telah didapatkan di pondok itu  tidak hanya dalam hubungan ubudiyah saja, justru di saat berada di lingkungan luar pondok itulah seorang santri mencoba untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu keagamaan tersebut dalam menyikapi keadaan yang terjadi di lingkungan mereka. Apalagi ketika seorang santri tersebut melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu ketika masuk ke perguruan tinggi dan menjadi seorang mahasiswa. Perkembangan zaman dan kehidupan mahasiswa pun menjadi sebuah pembelajaran baru yang memerlukan perencanaan strategis untuk menghadapinya, dengan pengolahan nilai-nilai keagamaan yang telah ditanamkan selama di pondok pesantren. Secara kasat mata, bisa dilihat budaya, semisal perayaan Hari Valentine, tahun baru, atau ulang tahun dengan cara-cara yang nyaris persis anak-anak kota. Dalam hal berpakaian, tak sedikit mahasantri (santri dengan kehidupan mahasiswa) latah ikut-ikutan gaya yang sedang tren dikalangan selebritas. Dalam hal makanan, menanak (baca: atana') dianggap "nggak gaul" dan merepotkan. Padahal, yang disebut terakhir juga termasuk aktivitas kependidikan dan pembelajaran kemandirian. Sehingga secara tidak sadar, Mahasantri kini dihinggapi budaya instan, konsumtif, dan hedonis. Instan lantaran terbiasa dengan "kemudahan", segalanya didapat dengan mudah dan tanpa melalui proses yang teliti. Konsumtif akibat pudarnya daya kritisisme mahasantri sekaligus lantaran dihadapkan pada dagangan produk kapitalis yang menggiurkan. Hedonis lantaran ada kecenderungan perilaku diarahkan untuk melulu menggali sebuah kesenangan semu, dan tentu saja ini akan berpengaruh pada pola pikir, paradigma kemudian perilaku Mahasantri.
Namun, hendaklah mencoba membuka wawasan yang lebih luas untuk menerima hal-hal baru, mencoba untuk menghilangkan pemikiran bahwa santri yang mungkin lebih dikenal dengan orang yang selalu manut (sami’na wa atha’na) dengan kyainya, karena dalam posisi sebagai mahasiswa, santri harus mencoba untuk mengesampingkan prinsip itu, karena manut tidak selalu identik dengan baik. Para pemimpin pun tidak selalu baik, tidak ada yang tidak terlepas dari sebuah kesalahan, entah itu karena kesengajaan maupun ke-alpa-an mereka. Dari sinilah seorang santri yang sudah berevolusi menjadi seorang mahasiswa mencoba untuk memfilter segala yang ada dan terjadi di lingkungan sekitar, mencoba untuk bersikap kritis, aktif dan progresif dalam menyikapi beragam permasalahan yang muncul.
Santri memilik peran yang sangat strategis, apalagi di era seperti sekarang ini. Banyak diversifikasi kemampuan yang dimiliki oleh setiap santri, dan menuntut santri tersebut untuk dapat mengembangkan kemampuannya diberbagai bidang, tidak hanya di dalam jalur pendidikan kegamaan, namun juga dijalur umum seperti dalam bidang kedokteran, teknik, pertanian, dll. Sehingga  perlunya adanya pelayanan terhadap keberagaman tersebut dengan menyesuaikan dengan perannya masing-masing. Peran strategis tersebut terdiri dari scholar, inventor , dan creator. seperti disebutkan dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW : Khairunnas anfa’uhum linnas. Manusia yang baik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Untuk itulah santri sebaiknya memiliki pemahaman yang mendalam terhadap bidang yang ditekuninya selain pemahaman tentang keagamaan. Pengetahuan keagamaan seorang santri harusnya dapat disandingkan dengan pengetahuan yang berkembang dan maju. Tidak mudah memang, apalagi dengan perkembangan yang berubah, secara fleksibel memerlukan pemikiran yang lebih tinggi, tidak hanya terpaku dengan sebuah pemikiran saja. Dari pengetahuan yang mendalam itu santri harus punya suatu penemuan yang meski kecil namun tetap bermanfaat bagi manusia. Untuk menemukan hal tersebut, santri harus kreatif.  Kreativitas inilah yang dapat mengindikasikan banyak santri yang muncul menjadi inventor.
            Dari sini, sebagai santri yang diberi kesempatan  untuk dapat menikmati bangku kuliah terutama santri yang berkesempatan dengan bantuan beasiswa dari Kementrian Agama RI, hendaklah mencoba untuk merefleksikan diri dalam mewujudkan penafsiran tentang makna “ mahasantri “ yang telah disandang, dijelmakan dengan sikap dan tindakan kita dalam kehidupan sebagai seorang pemikir yang memperdalam dan mengaplikasikan ilmu agama untuk mengetahui hakikatnya yakni untuk mengabdi dan menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawi, serta bertindak dan berperilaku agamis, normatif, serta berfikir kritis dengan memadukan nilai keislaman dan keilmuan, sehingga kita menjadi mahasiswa yang punya “ilmu yang amaliah, dan amal yang ilmiah”.

Jumat, 10 Mei 2013

Hafidzul Qur’an: adalah nikmat yang tiada terkira

TUHAN begitu penuh kasih kepada kita, penuh rasa sayang yang terpendar memayungi ratapan hati dan keinginan kita. Manusia berencana dan berbuat namun Tuhan jualah yang menentukan. Sungguh scenario Tuhan, jauh lebih fantastis dari produser-produser film manapun, dan kita, adalah actor terbaikNya di muka bumi. Masing-masing kita dianugerahi kelebihan untuk kita syukuri, dan kekurangan untuk kita perbaiki, jika Ippho Santosa mengatakan dari pada memperbaiki kekurangan, lebih baik mengoptimalkan dan mengasah kelebihan kita. Tidak bagi saya, kelebihan untuk terus kita syukuri dan ditempatkan sesuai kapasitasnya dan tentang kekurangan kita?tentu saja harus diperbaiki dunk, betul tidak??. Sebagian dari kita, diberi nikmat kesempatan dan sementara yang lain mencari dimana kesempatan itu disimpanNya, sebagian kita dipilih karena kita patut dipilih, namun sebagian yang lain, mematutkan diri untuk dipilih. Allah tahu apa yang kau mau, kawan…
keajaiban-al-quranSeorang hafadzatul quran yang didadanya terukir ayat-ayat alquran dan setiap sikap dan tingkah lakunya terpancar cahaya alquran maka sungguh inilah insane paripurna. Jika kita adalah bagian seorang itu, maka syukur tidak lah cukup dengan kata Alhamdulillah, penjagaannya membutuhkan pengorbanan dan ke-istiqomahan, sungguh (hafalan) alquran tidak diperoleh karena begitu cerdas dan pintarnya otak kita, tapi karena keistiqomahan dan rahim-Nya yang telah memilih kita. Tidak ada dalam literature kitab suci kita yang menyatakan bahwa para malaikat bersama orang-orang yang cerdas. Sungguh bersama orang-orang yang selalu istiqomah dijalanNya-lah malaikat akan turun dan melebarkan sayapnya, menaungi setiap langkah kita dan menjadikan hati para mukmin tenang dan tentram, kemudahan dalam segala urusan dan kelapangan dalam kehidupan. SubhanAllah, maha suci Allah atas segala nikmatNya.
Nikmat adalah amanah yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapanNya, nikmat adalah sesuatu yang tersandar dalam diri kita untuk kita tunaikan sesuai tempatnya. Diri kita adalah putih, hati kita begitu bening, maka saat nikmat itu tidak tertunaikan, maka serpihan debu menghalangi pantulan cahayanya, pantulan kebaikan tak kan memancar dari hati yang tertutup oleh kabut kesombongan dan kepongahan. Mungkin kita beranggapan, ahh… memang diri ini pantas untuk mendapatkan nikmat ini, karena saya memang pantas. Saya pantas mendapatkan alquran, karena saya cerdas. Saya pantas kaya, karena saya adalah pekerja handal. Sekali lagi tidak saudaraku… sungguh ini karena rahman dan rahimNya pada kita. Ummat yang selalu ingkar dan bermaksiat padaNya! -semoga Allah menjaga kita dari hal-hal yang menjauhkan kita padaNya-
Alquran membawa syafaat bagi ahlinya, maka jangan pernah ingkar dan berpaling darinya. Karena disamping alquran menjadi hujjah bagi kita, tapi juga bisa menjadi hujatan atas kita. Saya teringat dengan pesan almarhum kyai Idris jauhari (allahummaghfirlahu), pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, “Anakku… kamu sudah hafal Kaamilul Quran?” saya jawab singkat, Alhamdulillah sudah, Pak Kyai, “Bagaimana dengan pendidikanmu?”, Alhamdulillah sudah menyelesaikan s1 pak kyai, “ingat nak… s1 itu hanya formal, dan pendidikan formal itu hanya untuk wet ma gewet (sok-sok gawat-madura-) tok!, alquran-mu lah yang paling berharga, maka saat alquran pergi darimu, maka sungguh telah lepas selimut kehormatan darimu! Dijaga anakku…”.
Untuk saudara-saudaraku yang sedang diguyur kenikmatan dan keberkahan.
Untuk rekan-rekan yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi…
Untuk adik-adikku yang sebentar lagi akan diwisuda alqurannya…
Jika kita menghidupkan alquran, maka sungguh alquran akan menghidupkan kita, dan ingat! Jangan mencari penghidupan dari alquran, tapi hiduplah dengan menghidupi alquran. Semoga Allah menganugerahkan keberkahan umur, rizki yang halal, dan ilmu yang bermanfaat. Amien…

Sabtu, 13 April 2013

Keberpasangan

Firman Allah: “Maha Suci Tuhan yang Telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”
Dalam kehidupan yang kita alami ini, terlihat dengan jelas adanya keberpasangan. Ada malam ada siang, ada pagi ada sore, ada senang ada susah, ada jantan ada betina, demikian seterusnya. Hanya Sang Khaliq, Allah swt yang tidak ada pasangan-Nya, tidak ada pula keserupaan-Nya. Listrik pun berpasangan, ada arus positif dan ada arus negative, bumi tempat yang kita huni pun, ada kutubnya yang negative ada juga yang positif, bahkan atom yang tadinya diduga merupakan wujud yang terkecil dan tidak dapat terbagi, ternyata ia pun berpasangan dari electron dan proton.
Dengan keberpasangan itu, lahirlah kerjasaman dan dengan kerjasama, hidup bersinambung lagi harmonis. Masing-masing secara berdiri sendiri memiliki keistimewaan tetapi juga kekurangan. Dengan keberpasangan, tercipta kesempurnaan dan menyatu keistimewaan itu.
Bunga-bunga yang mekar dengan indahnya, bertujuan antara lain merayu burung dan lebah agar mengantar benihnya ke kembang lain untuk dibuahi. Bukan hanya binatang dan tumbuh-tumbuhan, bahkan atom pun (yang negative dan positif) electron dan proton bertemu untuk saling tarik menarik demi memelihara eksestensinya. Demikian naluri makhluk, yang dianugerahkan Allah kepadanya. Masing-masing memiliki pasangan dan berupaya bertemu dengan pasangannya. Agaknya tidak ada satu naluri yang lebih dalam dan kuat dorongannya melebihi naluri dorongan pertemuan dua lawan jenis, pria dan wanita, jantan dan betina, positif dan negative. Itulah ciptaan dan pengaturan Allah.
Manusia dalam keberpasangannya berbeda dengan binatang. Pada umumnya ada waktu-waktu tertentu bagi binatang untuk melakukan hubungan seks. Sekian banyak binatang tidak melakukannya setelah betinanya mengandung, berbeda dengan manusia. Di sisi lain, kecenderungan seksual umumnya binatang hanya muncul pada musim bunga, tidak setiap waktu. Karena itu, “kita mendzalimi binatang” ketika memaki seseorang yang mengumbar nafsunya tanpa batas dengan menyatakan “nafsunya seperti binatang”, sebab hakikatnya nafsu manusia apalagi yang durhaka melebihi nafsu binatang bahkan tak mengenal batas.
Keberpasangan adalah aksi dari satu pihak yang disambut dengan reaksi penerimaan oleh pihak lain, satu mempengaruhi dan yang lain dipengaruhi. Atas dasar inilah law of sex berjalan, dan atas dasar itu pula alam raya diatur Allah.
SOLEHAHJika kita mengakui bahwa keberpasangan merupakan ketetapa ilahi yang berlaku umum (dan ini harus diakui karena kenyataan membuktikannya) maka harus diakui pula bahwa ia bukanlah sesuatu yang kotor atau najis, tetapi bersih, suci lagi terhormat dan selalu harus bersih suci dan terhormat. Itu salah satu sebab mengapa dalam surat yasin ayat 36 tersebut dimulai dengan kata subhana/maha suci Allah. Tidak dibenarkan adanya noda pada seks, dan setiap noda yang mungkin muncul harus segera dihindari. Dari sini pertemuan laki dan perempuan harus disertai kebersihan dan kesucian.
Selanjutnya jika kita mengakui bahwa aksi dan reaksi atau pengaruh mempengaruhi merupakan kodrat segala sesuatu. Maka, harus diakui pula bahwa tiada keistimewaan bagi yang melakukan alsi dari segi fungsinya sebagai pelaku, dan tidak juga ada kekurangan bagi yang menerima reaksinya. Walaupun harus diakui bahwa yang melakukan aksi lebih kuat dari yang menerima. Seandainya jarum tidak lebih keras dari kain atau pacul tidak lebih kuat dari tanah, maka tidak aka ada jahit menjahit, tidak juga ada hasil pertanian. Karena itu, jantan atau lelaki, selalu mengesankan kekuatan dan penguasaan, sementara betina atau perempuan mengesankan kelemahlembutan dan penerimaan. Namun demikian, sekali lagi kekuatan atau kelemahlembutan disini, sama sekali tidak menunjukkan superioritas satu pihak atas pihak yang lain, tetapi masing-masing memiliki keistimewaannya dan masiing-masing membutuhkan yang lain guna tercapainya tujuan bersama.
Bagi manusia, mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Ketersendirian (dan lebih hebat lagi keterasingan) sungguh dapat menghantui manusia karena manusia pada dasarnya adalah makhluk social, makhluk yang membawa sifat dasar ketergantunga.
Memang sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia menikah, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa. Tetapi harus diingat bahwa keberpasangan manusia bukan hanya didorong oleh desakan naluri seksual, tetapi lebih dari itu, ia adalah dorongan kebutuhan jiwanya untuk meraih ketenangan. Ketenangan itu yang didambakan oleh suami khususnya saat ia keluar rumah dan anak istrinya, dan dibutuhkan pula oleh istri lebih-lebih ketika suami meninggalkannya keluar rumah. Ketenangan serupa juga dibutuhkan anak-anak bukan saja saat berada ditengah keluarga, tetapi sepanjang masa. Entah apa yang terjadi dalam detik-detik jantung seorang perempuan dan lelaki yang berpasangan secara sah, sehingga bersedia menurut istilah al-Qur’an dalam surat an-Nisa: 21 (afdha ba’dhukum ila ba’dh). wallahu a’lam bisshowab..

Selasa, 09 April 2013

Kebetulan-Ku

Percaya dengan kata “kebetulan”?. Kebetulan saya masuk pondok, lalu hafidh (Hafal) alquran. Kebetulan saya bekerja disini dan karir melambung tinggi sehingga saya sukses. Kebetulan saya bertemu dengannya, lalu saya suka padanya. Kebetulan saya lewat sini, lalu terjatuh, atau apapun bentuk kebetulan itu baik yang berujung baik atau buruk. Toh, bumi dan isinya diciptakan-Nya secara “kebetulan”? iya kah?.
Tinta ketetapannya telah mengerik, coretan pena takdir telah ditorehkan rapi dalam catatan panjang dilauh mahfudz sana. Rasanya tidak ada kata “kebetulan” dalam kamus-Nya. “Oh, maaf.. saya kebetulan saja menulis makalah ini”, rasanya aneh dan kurang logis kayaknya, betul??. Tidak ada apapun yang olehNya diciptakan atau terjadi secara kebetulan, karena “kebetulan” itu sendiri adalah proses, cara atau pembelajaran dari Tuhan untuk mendidik kita, dan bukankah “kebetulan” itu sendiri lahir dari suatu pilihan?. kita masuk pondok, karena kita memilih entah itu dalam keadaan terpaksa atau tidak. Kita bekerja dan sukses adalah karena kita memilih untuk berusaha. Rasa suka padanya, dan mengapa suka itu ada adalah karena kita memilihnya, yang kemudian kita sebut dengan “kebetulan”.

Pohon Terlarang


Semua ulama sepakat, bahwa manusia pertama adalah adam, yang sempat tinggal beberapa waktu di Surga hingga akhirnya Allah menakdirkanya untuk tinggal di bumi bersama ibu hawa. Adalah sebuah ketentuanNya kepada adam untuk makan dan minum atas kehendaknya, kecuali satu pohon terlarang. Jangankan untuk memakannya, mendekatinya saja tidak  boleh, sebagaimana firmannya surat al-baqarah, “wahai adam... tinggallah kamu dan istrimu (hawa) di surga, dan makanlah apa-apa yang didalamnya sepuasmu. Akan tetapi jangan kamu dekati pohon ini, sehingga kamu menjadi orang-orang yang dholim”. Saking pentingnya, Allah mengulang Ayat ini terulang beberapa kali di alquran, di juz 8 surat al-An’am, juz 14 surat al-Hijr, juz 23 di surat Shod, agar kita selalu mengambil pelajaran dari peristiwa turunnya adam dari syurga. Pertanyaannya adalah, apakah pohon yang dimaksud itu?? Sebagian pakar mengkhususkan pohon ini, ada yang berpendapat pohon yang dimaksud adalah pohon Tin, tapi pendapat ini sangat lemah, terlepas dari itu, rasanya tidak ada guna kita meraba-raba apa lagi menentukan jenis pohon apa yang dimaksud ayat ini. Andai itu penting, tentu Allah akan menyebutnya di alquran atau melalui lisan nabi SAW dalam hadits-nya.
Di antara sekian banyak pohon terlarang, ada yang telah diakui bahayanya, dan telah lahir peraturan yang jelas tentang larangannya serta hukum yang tegas bagi pelanggarnya, yakni pohon candu opium. Pohon Opium, semua sepakat bahan pohon ini terlarang, bahkan semua negara mengkampanyekan untuk pemusnahan tumbuhan ini (bagi yang tidak berizin), karena pohon ini merupakan cikal bakal dari NARKOBA. Sebagian lain, menggunakan pohon ini sebagai obat dengan dosis tertentu. Karena dengan mengkonsumsinya akan menimbulkan efek kecanduan dan ketergantungan.

Senin, 14 Mei 2012

Menghafal Al-Quran adalah Perjuangan Penuh Kehormatan

Menghafal alquran tidak seperti halnya menghafalkan pelajaran biologi, atau sejarah. Alqur’an mempunyai seni tersendiri. Seolah-olah alquran merupakan makhluk hidup yang bisa mengerti kita. Saat kita berusaha dan berjuang untuk mendapatkan alquran, maka seiring itu pula, alquran perlahan mendekat pada kita, namun sebaliknya, saat kita menduakan alqruan, alquran seolah begitDSC00102u sulit untuk kita rangkul. Ada banyak hal yang menghambat kita dalam menghafal alquran, salah satunya sebagaimana Imam Syafii memaparkan tentang kesulitan beliau dalam menghafal. Maksiat. Rasanya sulit sekali kita lepas dari yang namanya maksiat. Konon, imam syafii hilang sekian juz setelah tanpa sengaja melihat “betis” seorang wanita. Luar biasa bukan? hanya karena tanpa sengaja melihat! Saya ulang lagi, tanpa sengaja melihat!! Lalu bagaimana dengan kita sekarang?

Sabtu, 12 Mei 2012

Catatan spontanitas tentang Cinta: Perempuan dan kodratnya sebagai Ibu

kemarin banyak ku terima posting tentang seorang figur malaikat tuhan yang bernama "ibu". Masing-masing penulis, mengenalkan wajah dan sketsa lekuknya dengan kata-kata dan untaian puisi cinta yang luarbiasa, dan memang sungguh layak, karena ibu adalah sosok luar biasa, sosok lembut yang berubah menjadi sekeras karang demi melihat anaknya tercinta tersenyum menggapai balon cita dan asanya. tidak peduli kaki melepuh karena panasnya kerak aspal jalan raya, kebarat-ketimur mencari sesuap uang receh, demi anknya tersenyum dan mencicipi satu permen karet seharga 500 rpiah. Ibu memang sangat luarbiasa, robeknya hati karena cinta, luka hati karena tersakiti oleh kata, cucuran keringat yang membasahi dan rintih kesakitn yang diderita badannya seolah tidak pernah secuilpun mengurangi semangatnya untuk terus berada disamping putra-putrinya. lalu bagaimana dengan kita...

orang yang selalu beliau bangga-banggakan..
orang yang selalu beliau nina bobokkan saat kita masih kecil..memperdengarkan cerita indah kepahlawanan sultan shalahudin al-ayyubi, khalid bin walid, umar bin khattab dan rasulullah saw.
lalu bagaimana dengan kita...
orang yang selalu beliau ratapi ditengah malamnya..
bermunajat memohon ampunan dan kelanggengan dalam segala hal..
orang yang selalu beliau kasihi..
orang yang selalu beliau katakann "inilah malaikat kecil titipan allah padaku,,"
dialah kunci surgaku..
dialah penjaminku.."

lalu bagaimana dengan kita...
kita disibukkan dengan kesibukan duniawi. mencari uang, mencari kehidupan, mencari kesejahteraan.
apakah semua itu benar-benar akan menebus satu guratan kesedihan sang ibu. saya teringat suatu hadits, "ketika datang seorang anak melapor kepada rasulullah, melaporkan bahwa orang tuanya meminta harta yang telah ia kumpulkan dari hasil keringatnya, dan apa jawaban rasulullah, "dirimu dan hartamu adalah milik orang tua mu, seluruh hartamu, tidak akan mampu menggantikan satu tangisan ibumu, atao bahkan satu senyuman ketika membuaimu".

tidak saudaraku..sekali lagi tidak.. dunia akan membutakan kita, melenakan dan membuai kita dalam kesenangan sesaat, ibu kita, tidak butuh itu..
lalu bagaimana dengan kita saudaraku..

kita disibukkan dengan diri pribadi kita. "alahhh..saya sudah besar, saya sudah bekerja,,hidupku adalah hidupku toh aku juga masih bisa membantu meringankan beban orang tua dg membiayai adiku atau bahkan mengirim orang tua.". kesombongan financial, emosi dan ambisi. pufh..kita terlalu disibukkan dengan semua keinginan kita. saya rasa semua sepakat bahwa kita meningnkan pasangan yang ideal, yang mengerti kita, yang sempurna dipandang kita. namun sayang justru, keingnan seperti itu yang banyak menyibukkan dan menyita emosi kita. sejenak kembali, berapa waktu yang kita sediakan untuk ibu kita, bukankah waktu yang telah lewat tidak akan kembali, masihkah mungkin besok, lusa, atau minggu depan, kita masih melihat guratan senyum diujung pintu menunggu kedatangan kita??"

kita disibukkan oleh diri kita..
kita mengejar cinta..cinta yang bagaimana??
cinta yang seperti apa?? mari kita lihat cinta sang Ibu?pernahkah ada keluh kesah keluar dari bibirnya yang dialamatkan untuk kita. pernah kah teruntai kata. "nak..sy merawat kamu sejak kecil, biaya perawatan memandika, Rp. 2000, menyuapi, 1000. menidurkan, mengganti popok dan lain-lain sekian ribu..pernahkah????.

cinta yang bagaimana, yang kita kejar???
saya menyayangimu setulus hati, maka kamu harus menyayangiku juga setulus hati. karena saya tidak selingkuh, maka kamu jangan selingkuh. atao mungkin, mas terserah wanita yang mana yang kamu pilih hati saya akan selalu menunggu..itu kah?. bagaimana dengan cinta ibu kita, pernahkah kalian "nak. karena saya sudah mencintaimu dan merawarmu sejak kecil maka kamu sekarang gantian yang harus menjagaku..!. CINTA YANG BALAS DENDAM" tidak saudaraku..sekali kali tidak. cintanya tidak begitu..lalu mengapa kita disibukkan dengan cinta semu yang membawa kita pada ksedihan berkepanjangan, harapan yang menggantung atau apalah.. mengapa sesosok manusia, seonggok daging itu yang kita gantungkan harapan. mengapa harus laki-laki itu yagn kita kejar cintanya..mengapa wanita itu yang kita harapkan menjaga rumah dan hati kita? dy yg belum halal bagi kita!! belum halal...

cinta memang sangat indah, penuh warna dan tidak berwarna jingga saja..
cinta mencairkan batu yang keras..
cinta melembutkan lelaki yang kasar sekalipun..
dan cinta membuat dunia ini selalu ramai bercerita..
allah menganugerahkan kita cinta, sebagaiaman allah menganugerahkan cinta ibu untuk kita anak-anaknya..

cinta adalah anugerah..
jangan nodai cinta itu dengan perbuatan kita yang tak pantas.
mari kita jaga agar cinta itu bersemayam indah, terpupuk dengan baik sehingga menumbuhkan pohon-pohon ibadah yang mendekatkan kita pada san maha Cinta, menumbuhkan bibit kebaikan untuk kita, ibu kita dan keluarga kita.

untuk saudaraku yang terus berjuang dengan membawa panji ibu, abah dan keluarganya..
ubahlah duniamu dengan Cinta-Nya. resapi cinta ibu dan abah kita.. renungi cinta kepada orang yang peduli pada kita.

semoga cinta kita membawa orang-orang yang kita cintai ke surgaNya penuh cinta. yang tidak ada keresahan, kesedihan, dan taman orang-orang pilihannya yang penuh suka cita.
dari hati penuh cinta, saudara mu..alfaqir ila rabbih...

- suatu pagi di kompleks asrama tahfidh al-amien prenduan, 24 Desember 2011
































































Kamis, 15 Desember 2011

In Memorial: Great Teacher, KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA

Profil:
KH. Moh. Tidjani Djauhari MA lahir di Sumenep, Madura pada 24 Dzulqa’dah 1365 H/23 Oktober 1945 M. Alumni I Gontor (1964) ini menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Fakultas Syari’ah wa Dirasat al-Islamiyah pada 1969, dan lulus pendidikan S2 dengan yudisium Cumlaude di Universitas Malik Abdul ‘Aziz Makkah pada 1973 dengan tesis: “Tahqîq Kitâb Fadhâ`il al-Qur`ân wa Ma’âlimuhu wa Âdâbuhu li al-Imâm Abû ‘Ubaid al-Qâsim Ibnu as-Sallâm al-Harawi al-Baghdâdî”. Hingga akhir hayatnya, beliau masih terdaftar sebagai kandidat Doktor bidang Ilmu Tafsir di Universitas Al-Azhar Mesir. Selama masa hidupnya, penulis telah dipercaya memegang beberapa jabatan penting internasional di Rabithah ‘Alam al-Islami (Muslim World League) dari kurun 1974-1988. Jabatan yang sempat dipercayakan antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bidang Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), serta Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran Menyimpang (1983-1988). Sekembalinya ke tanah air, beberapa jabatan nasional juga telah beliau pegang. Antara lain: Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura (1989-akhir hayatnya), Koordinator Pusat Badan Silaturrahmi Ulama Madura (BASSRA) (1992), Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jawa Timur (1995-2000), Pendiri Badan Silaturrahim Pondok Pesantren (BSPP) (1998),

Kamis, 13 Oktober 2011

Catatan : Tentang Saudaraku, sahabatku dan teman seperjuanganku

Ada kebanggaan tersendiri, saat adik-adik dan temen seperjuangan dipondok akan dikirim untuk mengajar di Makassar, sebagian dari mereka malah masih berumur 17 tahun, saat dimana teman-teman sebayanya duduk dibangku sekolah menengah atas atau yang sederajat. Satu tahun setengah bersama, sudah sangat mengeratkan ikatan emosional kami, mengejar target hafalan, kerjaan kantor dan administrasi yang menumpuk, sampai target wisuda dengan persiapan yang “hanya” satu bulan. Bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan, berpendar meramaikan malam saat beberapa teman terlelap, teriak-teriak ditengah masjid di siang hari, demi suksesnya setoran murajaah sore dan meminimalisir “kekecewaan” yang ustadz kami, saat menyimak hafalan kami. Kami bukanlah santri yang sangat menonjol, mutik, atau apalah istilah santri yang “baik-baik”. Kadang, beralasan tugas pondok, pergi muter-muter Surabaya, atau pekerjaan yang harusnya di-pending, diawalkan agar tidak ikut jam setoran, nge-less karena belum siap setoran, apalagi kalo sudah Barcelona akan tampil dalam laga champion atau bahkan, setingkat laga persahabatan kami sudah pasang kuda-kuda, siang hari tidur dan malamnya “sahirallayaali”, muter-muter mencari warung kopi dan begadang hanya sekedar ingin melihat pemain favorit kami menjebol gawang lawan, sehingga bisa dipastikan, esok harinya ada yang beralasan sakit gigi (agar tidak ikut jam setoran), sakit pinggang bahkan ada yang sakit kaki, alas an sakit yang kadang tidak nyambung,hehe… bahkan, ada salah satu teman kami, yang memiliki keakurat pandangan mata kurang (tapi anehnya kalau melihat akhwat, radarnya langsung nangkap,hehe..tapi jangan ditanya soal hafalannya, dijamin ngewes..), sehingga jika dia berjalan malam, harus dituntun dan dipapah(maklum dia rabun senja), rela berjalan sambil meraba-raba (karna gak ada yang ngantar) demi melihat Liverpool bertanding. Meski kalah, dia akan sesumbar, “tenang saja mas..liverpool itu hanya mengalah, apalagi steven gerradl gak bisa main karena sakit encok”. Dan sadisnya, ada teman satunya lagi yang memanfaatkan moment tersebut, kadang dia dituntun menuju sawah antah berantah, sehingga mendarat dikubangan lumpur, nambrak tembok, ke-jedug tiang telpon, dan beberapa kejadian lain. Semoga Allah memberikan kesembuhan baginya, amien…
Saya teringat suatu moment yang sangat membekas dalam diri saya, dalam perjalanan saya nyantri di Surabaya, kiai kami, Ust. Mudawi Ma’arif sangat disegani, mengingat beliau jarang marah, bahkan untuk mengangkat suara sekalipun, apalagi kalau sudah membahas masalah tafsir, seolah-olah ayat apapun bisa beliau bawa untuk menegur dan mengingatkan kami, dengan suara lantang beliau membaca “atastabdiluuna billadzi huwa adna billadzi huwa khoir..”, kalian adalah penghafal alqur’an, dan alqur’an mulya dibanding kalam-kalam yang lain, bagaikan kemulyaan-Nya disbanding makhluk-Nya, maka jika kalian terdetak dan berniat berhenti untuk menghafal, maka sesungguhnya kalian menghendaki untuk berhentinya diri kalian dari kemulyaan, bukankah Allah telah memulyakan kalian wahai ummat manusia (surat al-isra’)?, lalu apakah kalian mau, kemulyaan akhirat yang akan kalian pearoleh, ditukar dengan gemerlap kehidupan?..”, demikian kurang lebih paparan guru kami. Padahal, kalo diliat, susuna ayat tersebut, adalah saat alquran menceritakan bagaimana sifat bani israil. Kembali ke cerita awal, kami berada di kantor. Setelah sekian lama tidak mendengar music, tumben-tumbennya saya ingin mendengar lagu-lagu mello yang dulu saya gandrungi, sehingga diputarlah, lagu Ibu-milik iwan fals-, merepih alamnya chryse dan kupu-kupu malam miliknya ariel peterpan, hufh..selang beberapa waktu terdengar suara “astagfirullah…apa ini?, bayu..matikan..astagfirullah..hapus semuanya!!”, saya tercekat, saat ku menoleh ust. Mudawi berdiri dihadapan kami, tatap memerah wajah teduh beliau, dan kulihat, temanku Bayu tergagap didepan computer bingung mematikan music berikut komputernya. Setelah berkata begitu, beliau langsung keluar, dan kami semburat mencari tempat aman untuk bersembunyi, (padahal tidak dibagian sudut manapun dari pondok ini, aman dari beliau pantauan beliau).


Hari ini, 07 oktober mereka berangkat menuju Makassar, mereka akan mengemban tugas dakwah membumikan alquran, menyiarkan dan mengajarkan alqur’an. Mengajarkan alqur’an bahwa alquran begitu ajaib, begitu istimewa dan mudah dihafal. Tugas yang tidak mudah untuk adik seperjuanganku yang masih seumuran itu, dia masih suka dengan game, masih suka berkumpul dengan teman, bermain bersama mereka, futsal rame-rame walo harus bertegang urat leher dan merogoh kantong, hanya untuk memperebutkan kata “saya menang”. Dia seperti halnya teman sebayanya, yang malam jum’atnya kadang diisi dengan pertandingan bola di stadion Play Station seberang pondok, tapi yang istimewa darinya, dia adalah muhafidz yang dipilih Allah, dia punya semangat, dan dia tidak mau dikatakan “kamu Kalah, Kamu harus menyerah”.
Saudaraku, tiga bulan lalu kita masih bersama, hingga saat wisuda, senang, gembira, tegang dan sedih bercampur, saya menempuh jalan yang saya pilih. Saya kembali tepat setelah acara wisuda hifdhu kaamilul qur’an. Sampai saat ini, saya sangat merindukan kalian. Adalah benar, kita tidak lagi bersama, tapi semangat kebersamaan kita haruslah tetap ada dimanapun kita berada. Binalah kebersamaan diantara kita, tidak membedakan kaya dan miskin, hitam-putih, Madura atau jawa. “Innallah yuhibbul ladziina yuqaatiluuna fii sabiilihi soffaa ka annahum bun_yaanun marsuush”. Selamat berjuang saudaraku, “intansurullaaha yan surkum, wayutsabbit aqdaamakum”. Saya yakin umur bukanlah segalanya, pendidikan bukanlah hal satu-satunya. Karena guru yang paling baik adalah pengalaman. Semoga semoga Dunia mendewasakanmu, Alam mengajarkanmu ayat-ayatNya, dan semoga jalan dakwah menguatkan tekadmu. Ingatlah kawan, tidak ada jalan yang tidak berbatu, selalu ada kerikil kecil yang siap melukai kaki saaat kita melangkah, tidak bijak rasanya kita tersinggung dan berpikir,mengapa kerikil tajam itu harus disini?, kita harus siap sandal, bahkan perban agar saat kaki kita terluka, kita siap untuk kembali melangkah.
Salam kangen dan hormat saya, kepada adik-adiku, saudara-saudaraku, dan teman seperjuanganku. Rahmat Alfian, As’adur Rofiq, dan Miftahul Khoiri. Semoga Allah mempertemukan kembali kita di tempat dan waktu yang lebih baik, kalau tidak didunia ini, semoga di jannah firdausNya. Amien…

Senin, 03 Oktober 2011

Klasifikasi dan Hierarki Ilmu: Posisi Logika dalam al-Ulum al-Kauniyah dan al-Ulum at-Tanziliyah

Bersama: KH. Moh. Idris Djauhari


Aktualisasi ilmu-ilmu pengetahuan lewat klasifikasinya banyak dilakukan oleh para penggiat pendidikan lebih pada sekedar mencapai kemudahan atas pencarian identitas dari ilmu tersebut.
Akan tetapi klasifikasi ilmu mencoba kembali menegakkan visi hierarkis ilmu pengetahuan tersebut dalam dunia pendidikan. Islam pun demikian, memcoba memberikan visi etis dan metodologis
dari ilmu-ilmu pengetahuan sesuai dengan pesan sentralnya sebagaimana yang termaktub
dalam kitab sucinya Al-Qur’an. Lalu dimana posisi logika – sebagai yang diakui telah
dirumuskan oleh pemikir-pemikir non-muslim – di dalam ilmu-ilmu Islam?
Berikut petikan wawancara eksklusif redaktur Jurnal Reflektika Anwar Nuris
dengan Direktur Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) yang juga
sekaligus sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
pada tanggal 18 Dzulhijjah 1425 H/29 Januari 2005 M
di kediamannya.
Apa yang melatar belakangi Bapak Kyai dalam membagi ilmu Pengetahuan ke dalam Ulum Tanziliyah dan ulum Kauniyah?
Sebenarnya saya tidak suka untuk membagi-bagi ilmu pengetahuan, karena pada hakekatnya semua ilmu itu satu, berasal dari yang Satu, direkayasa oleh yang Satu, harus dipelajari untuk yang satu dan akhirnya pasti akan kembali kepada yang satu, kalau toh harus ada pembagian itu sekedar untuk maksud identifikasi agar mudah diingat. Tapi sebaiknya jangan dalam bentuk pembagian atau pemilahan, yang lebih tepat dilakukan dalam bentuk pengelompokan.
Menurut saya, sebenarnya ilmu-ilmu Allah SWT bukan hanya 2 macam seperti tertulis dalam proposal, tapi bisa “dikelompokkan” menjadi 3 kelompok; yaitu Ulum Kauniyah, Ulum Tanziliyah dan Ulum Tathbiqiyah. Dasarnya apa? Saya meruju’ pada firman Allah tentang tugas-tugas Rasulullah saw yang tersimpul dalam 3 macam tugas ( Ali Imron, 154 dan Al- Jumu’ah, 2) yaitu tugas Tilawatil Ayat atau membacakan tanda-tanda keagungan Allah (Ulum Kauniyah), tugas Ta’limul Kitab wal-Hikmah atau mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits (Ulum Tanziliyah )serta tugas Tazkiyatun-Nas atau menyucikan manusia (Ulum Tathbiqiyah). Oleh karena tugas Rasulullah adalah membawa risalah / massage dari Allah kepada manusia, maka saya yakin bahwa ketiga tugas tersebut sangat erat hubungannya dengan ilmu-ilmu Allah SWT yang harus dikuasai oleh manusia sebagai Hamba dan KholifahNya

KeOtentikan al-Qur'an

disadur dari membumikan al-Qur'an, karya : Quraish Shihab

Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya) (QS 15:9). Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi saw. Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di atas, karena seperti yang ditulis oleh almarhum 'Abdul-Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan keotentikannya."1 Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.

Minggu, 01 Mei 2011

Tentang Perbedaan dan Absolutisitas Pemahaman

Salah satu fungsi agama, dan merupakan fungsi utamanya adalah memberikan rasa “aman” bagi pemeluknya. Nah, dari sini terlihat adanya kaitan antara “iman” dan “aman”. Baik melalui penelitian ataupun tanpa penelitian, masing-masing pemeluk agama meyakini secara mutlak kebenaran agamanya.

Ajaran agama diterima oleh penganutnya secara estafet, turun temurun dan terus begitu, yang jika kita runtut kebelakang, akan ditemukan sumber yaitu Tuhan yang diyakini oleh pemeluk agama tersebut. Secara pasati, setelah pembaca agama yang menjadi utusan tidak lagi berada ditengah-tengah umatnya, maka pastilah petunjuk-petunjuk yang dibawa mengalami perubahan interpretasi, bahkan memerlukan petunjuk-petunjuk praktis yang tadinya belum dikenal pada masa utusan tersebut ketika berada ditengah masyarakat. Apabila penganut agama tersebut meyakini interprets tersebt tunggal. Maka interpretasi tersebut menjadi absalut dikalangan mereka. Sebaliknya, apabila mengandung berbagai kemungkinan makna, maka ia menjadi relative.

Senin, 17 Agustus 2009

Pagi dengan Surat Al-Fajr

Alhamdulillah,,pagi ini gak sedingin biasanya, pagi yang begitu semarak. Dijalan, ku lihat burung-burung berkejaran bercuit ria, seolah ingin mengatakan pagi ini begitu indah, sayang jika dilewatkan dengan memeluk guling dan bersajadahkan kasur. Pada hari ini pula, Indonesia berulang tahun ke-64, ternyata negaraku ini sudah cukup tua, bahkan jauh lebih tua dari pada negara tetangga Malaysia dan singapura, tapi napa y kO indonesia gak maju-maju? apa karena mayoritas penduduknya seperti saya, yang “hanya” duduk berpikir memikirkan nasib serta umur yang terus berkurang, sementara kaki dan tanganku duduk bersila. Atau mungkin, karena pemerintahan kita sudah seperti kakek buyutku yang termakan usia untuk kembali memikul “landuk” dan clurit ke sawah. Alah..bukankah orang-orang pintar disekitar kita udah banyak, kenapa saya harus memikirkanya???.

Hijab Materi dan Rohani

Bagaimanakah bentuk hijab yang hakiki bagi wanita dalam Islam? Pertama-tama, hijab yang hakiki adalah wanita menutup seluruh anggota tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangan, dan tidak keluar rumah dengan berdandan. Yakni, terdapat hijab materi yang berupa penutupan tubuh, dan juga hijab rohani dimana sosok wanita sebagai manusia di tengah-tengah masyarakat, tidak berusaha tampil dengan dandanan yang menarik perhatian. Demikianlah bisa saja hijab itu muncul dalam bentuk pembicaraan, "Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, " (QS. al-Ahzab: 32) dan dalam bentuk perilaku-perilaku yang lain.

Minggu, 16 Agustus 2009

Kajian Grafik Pengendali dan Analisis Kemampuan Proses Statistik Berbasis Distribusi Weibull (Studi Kasus pada Data Livabilitas Semen Sapi BBIB Singo

oleh:
Yaya Qalbiyah Harisanti &Hendro Permadi
Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Kualitas didefinisikan sebagai konsistensi peningkatan atau perbaikan dan penurunan variasi karakteristik suatu produk (barang dan jasa) yang dihasilkan, agar memenuhi kebutuhan yang telah dispesifikasikan guna meningkatkan kepuasan konsumen. Untuk mengetahui apakah suatu produk sudah sesuai atau belum maka perlu dilakukan pengendalian kualitas. Pengendalian kualitas adalah suatu metodologi pengumpulan dan analisis data kualitas, serta penentuan dan interpretasi pengukuran-pengukuran yang menjelaskan tentang proses dalam suatu industri, untuk meningkatkan kualitas guna memenuhi kebutuhan konsumen.
Pengendalian kualitas dapat dilakukan dengan analisis grafik pengendali dan analisis kemampuan proses statistik. Sebelum melakukan pengendalian kualitas harus diketahui distribusi data. Apabila asumsi normal tidak terpenuhi salah satu pendekatan distribusi yang dapat dilakukan dengan pendekatan distribusi Weibull.
Data yang digunakan dalam makalah ini adalah data livabilitas semen sapi. Pendekatan dengan distribusi Weibull menghasilkan parameter skala , dan parameter bentuk . Hasil batas-batas grafikpengendali distribusi Weibull yaitu UCL= 86,8781; LCL=50,1971; Center Line= 74,34 dengan membangun grafik pengendali berbasis distribusi Weibull diperoleh data livabilitas terkendali secara statistik. Hasil analisis kemampuan proses berbasis distribusi Weibull diperoleh nilai Pp=1,67204 menunjukkan bahwa proses berjalan dengan sangat baik; dan nilai Ppk=1,61594 menunjukkan bahwa tingkat presisi dan akurasi proses sangat baik serta variasi proses semuanya berada dalam batas-batas yang telah ditentukan perusahaan. Hasil Expected Overall Performance, PPM USL= 0, hal ini berarti bahwa apabila produksi 1.000.000 produk maka 0 produk berada di luar batas spesifikasi atas perusahaan. PPM Total= 53,9759 (dari 53,9759 dibulatkan menjadi 54), hal ini berarti bahwa jumlah produk yang berada di luar batas spesifikasi atas dan bawah perusahaan adalah 54 produk dari 1.000.000 produk yang dihasilkan.

Kata Kunci: Distribusi Weibull, Grafik Pengendali Distribusi Weibull, Analisis Kemampuan Proses Distribusi Weibull.

Berpikir Kritis tentang Eksistensi Tuhan(F1)

Kajian yang dikemas dalam bentuk pelatihan, yang mencoba memahami Islam dari kesatuan "unsur" Tuhan, Alam, dan Manusia (TAM).

Prolog: Kisah Sang Pencari Tuhan
Pernahkah Anda ditanya, “Benarkah tuhan itu ada?” Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu, Anda terkejut. Sebab pertanyaan itu langsung mengusik sesuatu yang sudah baku dalam aqidah Anda, yaitu keimanan pada tuhan.

Belum hilang rasa keterkejutan itu, pertanyaan susulan yang tak kalah hebohnya biasanya juga memberondong, “Jika tuhan ada, di manakah dia?”, “Sedang apa dia?”

Mendapat pertanyaan-pertanyaan yang menggugat akidah itu, segera terbangun tuduhan dalam benak Anda bahwa ajaran atheis sedang merasuki pikiran sang penanya. Bukankah atheis mengajarkan pandangan dunia tanpa tuhan?

Tapi, tuduhan tersbut tidak menolong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang terbesit kemudian justru sebuah keraguan: jangan-jangan memang tuhan tidak ada.

Memang, sudah lama kita meyakini ajaran iman pada tuhan. Tapi jujur, hal itu kita dapatkan sebagai semacam sebuah doktrin. Dan kini, banyak mendapati batunya, betapa kita tidak bisa membela ketika mendapati tuhan digugat. Akal dan pikiran kita beku. Buyar seluruh doktrin yang kita warisi. Dan guncanglah iman kita.

Mencari Hakekat Kebenaran
Kisah di atas bisa saja terjadi pada kita. Sebuah sosok dengan iman yang keropos. Berpenampilan seolah paling kuat imannya, namun tidak memiliki akar yang menghujam ke dalam. Jadilah kita manusia yang mudah tergerus oleh gelombang pemikiran. Iman hanyalah pemanis kata; bukan sebuah keyakinan dengan pijakan ilmu. Maka, bagaimana kita akan berbicara tentang kehidupan keberagamaan, jika landasannya adalah iman yang keropos?

Tentu saja, “Kisah Sang Pencari Tuhan” tidak boleh terputus pada episode keguncangan iman. Harus ada solusi tentang proses pencarian tuhan itu. Maka, kami mencoba menawarkan sebuah pelatihan yang insya Allah akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tuhan di atas, sekaligus membangun sikap keberagamaan yang holistic.